Zakat, Semangat atau Enggan?

Begitu banyak kisah inspiratif yang sebelumya kita ketahui tentang berzakat, termasuk salah satu kisah sahabat Nabi SAW, Tsa’labah.

Suatu hari Tsa’labah mendatangi Nabi SAW mengadukan kondisi ekonominya yang serba kekurangan dan meminta pada Nabi SAW agar mendoakan baginya kekayaan yang melimpah.

Mendengar keluhan sekaligus permintaan Tsa’labah Nabi SAW tak langsung menyanggupi keinginan sahabatnya itu, bahkan menolaknya.

Namun, Tsa’labah terus mendesak Nabi SAW untuk mengabulkan keinginannya. Tsa’labah mengatakan pada Nabi jika ia memiliki kekayaan yang melimpah niscaya ia akan banyak menyedekahkan hartanya pada orang fakir. Mendengar janjinya Nabi langsung mendoakan hajat Tsa’labah.

Waktu berganti, bulan bergulir, kondisi pun berubah. Berkat doa Nabi, Tsa’labah mampu membeli sepasang hewan ternak dan tanah beberapa hektar. Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Kini ternak Tsa’labah telah berkembang biak, tanah yang diolahnya pun menjadi kebun kurma melimpah.

Mulai saat itulah hati dan pikiran Tsa’labah dikendalikan oleh hawa nafsunya. Hawa nafsu memperbanyak harta dan takut akan kerugian yang akan menimpa jika ia meninggalkan pekerjaannya, hatta sholat berjama’ah sekalipun rela ia tinggalkan.

Saat perintah berzakat turun Nabi mengutus dua orang untuk mengambil harta zakat ke rumah Tsa’labah. Bukannya mendapat apa yang diinginkan malah mendapat bantahan dari Tsa’labah yang menolak membayar zakat.

“Aku mengumpulkan harta dengan susah payah dan usahaku sendiri lalu kalian seenaknya meminta dariku hanya demi orang orang miskin yang malas bekerja!?”

Mendengar alasan Tsa’labah utusan tersebut kembali menemui Nabi dan menceritakan keengganan Tsa’labah berzakat. Mendengarnya Nabi sedih karena apa yang dikhawatirkan terjadi.

Melihat kisah Tsa’labah di atas yang hidup di zaman Nabi apakah kita pernah melihat kisah serupa di zaman kita sekarang?

Sebagian mungkin pernah kita lihat atau dengar. Kisah tentang seseorang yang enggan berzakat padahal hartanya melimpah, bahkan seperti Tsa’labah yang berjanji akan membantu orang fakir miskin jika hartanya telah melimpah tapi janji telah kandas bersama dengan hawa nafsu dan kesombongannya.

Berbeda dengan kisah lainnya, masih dengan sahabat Nabi yang didatangi kediamannya untuk berzakat. Seorang utusan Nabi menolak menerima zakat (ternak unta) yang diberikan oleh sahabat itu dengan alasan ia melebih nisab yang telah ditentukan sedangkan sahabat ini memiliki seekor anak unta berumur satu tahun yang nisabnya sesuai.

Sahabat tersebut berpendapat dihadapan Nabi dengan membawa unta betina dan berkata “Unta sekecil itu tidak bisa diperah susunya apalagi dimanfaatkan sebagai hewan tunggangan berbeda dengan unta betina ini, ia lebih banyak menghasilkan manfaat.”

Ia juga mengatakan pada Nabi jika ia ingin berzakat dengan nilai terbaik, salah satunya unta betina ini. Nabi pun mengabulkannya.

Kita lihat, dari dua kisah di atas manakah perilaku yang baik bagi seorang Muslim? Segera menunaikan zakat bahkan dengan memberikan harta yang terbaik, atau seperti Tsa’labah yang enggan yang akhirnya merugi untuk selama-lamanya.

Semua tergantung pilihan kita, semoga Allah bimbing hati kita untuk tunduk taat kepada-Nya.*/ Rifqiyati Hudayani_Alumnus STIS Hidayatullah Balikpapan

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *