Usai Ramadhan Dakwah di Pedalaman Nyaris Hanyut Diterjang Arus

Mendedikasikan diri dakwah di pedalaman sejatinya bukan pilihan mudah, namun sekali dipilih, tak ada pilihan lain, selain berusaha untuk istiqomah. Itulah yang selama ini diperjuangkan oleh Ustadz Nur Hadi.

“Sejak ditugaskan dakwah di Maluku Utara saya selalu berupaya menekuni dakwah ini dengan istiqomah, mohon doanya semoga Allah kuatkan,” ujar dai tangguh yang banyak membina mualaf Suku Togutil di Halmahera ini.

Sisi yang sangat menantang adalah perjalanan yang tidak seperti biasanya orang melakukan perjalanan. Termasuk baru-baru ini ketika usai Ramadhan ingin menyapa masyarakat suku di pedalaman.

“Sebenarnya ini sudah biasa, tapi ini tidak bagi banyak orang. Seperti pembinaan orang suku pada Ramadhan kemarin, qodarullah terjadi banjir. Akibatnya saya dan tim tidak bisa melanjutkan perjalanan, mau tidak mau menepi. Istirahat dan harus menunggu air surut. Sampai-sampai harus tertidur di pinggir sungai,” tuturnya.

Dramatis

Hujan deras beberapa hari saat itu yang terjadi di Pedalaman Halmahera menyebabkan sungai yang biasa dilalui Ustadz Nur Hadi menyeberang meluap airnya.

Peristiwanya pun cukup dramatis. “Jadi awalnya bersama tim sudah sampai tengah sungai dengan mengangkat pikul sepeda motor. Ternyata air sungai mulai naik dan terlihat beberapa kayu besar dari gunung pun ikut hanyut, wah banjir. Bahaya,” Ungkap Ustadz Nur Hadi.

Segera dengan sekuat tenaga saya dan tim bergerak ke tepian.

“Luar biasa saat mau menepi, air mulai deras dan semakin tinggi, nyaris kami hanyut,” imbuhnya.

Namun, Alhamdulillah hal itu tidak menyusahkan Ustadz Nur Hadi. Sekalipun sudah membuat jantung berdetak begitu kuat.

“Sampai di pinggir sungai kita sangat bersyukur, beruntung yang hanyut tak bisa diambil adalah beberapa sandal milik kita, termasuk sandal kesayangan saya pribadi,” ucapnya dengan tersenyum.

Dan, untuk menunggu air surut bukan dalam hitungan jam. “Kurang lebih 2 hari kita menunggu air surut untuk bisa melanjutkan perjalanan,” tuturnya.

Namun, ternyata tidak surut juga. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan rakit yang agak besar.

“Bersama masyarakat pedalaman yang lainnya sepeda motor kita kasih naik di rakit. Sementara orang-orangnya memegangi rakit dan berenang mencoba menyebrangi sungai yang agak dalam dan aliran sungai sedikit deras,” urainya.

“Alhamdulillah lolos dari sungai tersebut dan bisa melanjutkan perjalanan dakwah,” jelas Ustadz Nur Hadi.

Demikianlah sekilas kisah dari tantangan dan rintangan kala menekuni dakwah di pedalaman. Bukan sekedar butuh mental dan stamina, tetapi juga nyali dan keyakinan. Saat ditanya apakah Ustadz Nur Hadi tidak takut jawabnya tegas.

“Takut kepada Allah. Lebih takut lagi kalau diri ini tidak bermanfaat apa-apa bagi agama-Nya,” tutupnya.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *