Tangis Pejuang Keluarga Bertahan di Tengah Pandemi

Siang itu (29/4) matahari sangat terik di Kota Batam. Saat terik mentari akan mencapai puncaknya, tepat 30 menit sebelum adzan Dzuhur berkumandang, Kantor BMH Perwakilan Kepulauan Riau kedatangan tamu.

Elmayanti namanya, biasa dipanggil Unik Yanti. Beliau tinggal kurang lebih radius 3 kilometer dari Kantor BMH Kepulauan Riau di Kota Batam.

Langit berubah mendung tipis dan menumpahkan kesejukan berupa buliran hujan.

Perlahan Elmayanti masuk ke dalam kantor dan duduk di kursi tamu yang telah disediakan di ruang resepsionis.

Dengan cekatan, seorang anak muda yang bertugas di resepsionis mulai menyapa ramah lantas bertanya perihal kedatangannya.

“Mohon maaf, Bunda. Ada yang bisa kami bantu?”

Tak ada jawaban, kedua bibirnya tetap tertutup rapat. Tak lama kemudian, emosinya membuncah dan menangis dengan tersedu-sedu.

Menyaksikan itu, petugas resepsionis pun tanggap dan segera menemui ruangan Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Abdul Azis.

“Pak, mohon maaf ini ada seorang ibu sepertinya ada keperluan yang ingin disampaikan,” ucapnya dan pemuda tersebut menceritakan awal kedatangan ibu tersebut.

Azis pun melangkah ke ruang tamu. “Apa kabar, Ibu?” sapanya.

Dengan suara yang gemetaran karena memang masih dalam kondisi menangis ibu itu mulai berbicara.

“Alhamdulillah, baik, Pak,” jawabnya singkat.

Sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya, Elmayanti mulai bercerita.

Ternyata, dia dan keluarganya sudah hampir sebulan ini nyaris tidak sanggup lagi untuk bertahan menghadapi beratnya cobaan yang menimpa.

“Saya seorang pedagang bakso bakar keliling, terkadang juga kami berjualan cendol dan cilok. Belakangan ini juga saya pun terkadang juga ikut jualan kembang bunga di kuburan (makam). Namun tidak ada lagi hasil yang bisa diharapkan. Saya sebetulnya sangat malu dan berat sekali melangkahkan kaki ke sini pak. Suami pun menangis tak bisa berbuat apa apa.

Anak saya ada 7 orang pak. 5 anak sudah bisa ikut berpuasa. Namun ini yang menjadi titik puncaknya pak kami tidak bisa lagi bertahan melihat keadaan anak anak kami,” ucapnya menjelaskan.

Hal yang membuat Elmayanti harus tegar dan melangkah ke BMH adalah tangis anak anaknya yang minta sahur.

“Semalam anak-anak minta sahur. Namun kami tidak punya beras biar sekedar sebutir pun. Hanya ada Indomie satu bungkus dan kecap sama saos satu botol. Anak yang terakhir terus merengek minta makan,” ungkap Elmayanti yang disusul dengan tangis.

“Tidak tahu kami mau bagaimana mana lagi . Uang serupiah pun kami tak punya.” imbuhnya.

Setelah menumpahkan curahan hatinya, Elmayanti terlihat mulai tenang. Tarikan nafasnya mulai normal.

BMH pun segera memberikan paket sembako untuk Elmayanti, pejuang keluarga yang terus melangkah demi kebaikan keluarganya.

“Alhamdulillah terimakasih BMH dan juga para donatur, malam ini kami bisa sahur bersama anak anak,” ujarnya.

Elmayanti pun bergegas meninggalkan kantor. Langkahnya terlihat ringan, wajahnya mulai memancarkan optimisme dan kebahagiaan. Seakan-akan ia ingin berkata, “Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *