Tak Boleh Rapuh dalam Dakwah

“Sejak bertahun-tahun lalu, saya diminta untuk banyak istrahat, mengingat usia serta keterbatasan. Tapi, Alhamdulillah hingga saat ini Allah masih beri kesempatan untuk terus terlibat dalam giat dakwah, meski dalam jarak yang terbatas,” itulah ungkapan sangat heroik dari sosok dai tangguh bernama Ustadz Maedani.

Pria kelahiran Kepulauan Selayar, 77 tahun lalu itu memang sudah nampak senja fisiknya. Namun tidak dengan tekad hati dalam dakwah.

Di usianya yang lebih tua dari Republik ini beliau tetap aktif berdakwah bahkan berkah dari Allah, beliau termasuk dai tangguh yang terpilih untuk menjalankan ibadah Umroh di tahun ini.

Semakin rata warna putih mendominasi seluruh helai jenggotnya, kian berkobar keyakinannya kepada Allah, hingga tak ada istirahat. “Maunya dakwah,” tegasnya.

“Bagi saya tidak boleh seorang dai itu pensiun dalam dakwah. Biarlah ketentuan Allah dan biarlah Allah yang sempurnakan. Tak boleh rapuh dalam dakwah,” ucapnya penuh keyakinan.

Ustadz Maedani mengawali dakwahnya di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada tahun 1984 silam.

Kiprahnya yang tak pernah berhenti menjadikan ia terus dipercaya mengemban amanah di berbagai daerah. Usai Tolitoli ia lanjut tugas dakwahdi Kabupaten Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.

Berlanjut di Kabupaten Maros, hingga berlabuh di Kecamatan Bunga Didi, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

“Di Luwu Utara ini beliau tetap bertugas dakwah hingga kini,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Kadir (5/3).

Sebuah perjalanan berliku nan panjang.

“Alhamdulillah hari ini, kami mendampingi beliau menyiapkan Pasport untuk program Umrah Dai Tangguh BMH. Kami bangga kepada beliau dan berharap keistiqomahan itu menular kepada generasi muda dalam dakwah ini,” tutur Kadir.

Laznas BMH selalu hadir menguatkan dakwah dai tangguh. Dan, di antara cara untuk menguatkan kiprah mereka adalah dengan memberikan insan-insan petarung dakwah itu dengan umroh dai tangguh.*/Syam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *