Setengah Dekade Mengajari Ibu-ibu Belajar Iqra

Sejak remaja, berdakwah menjadi misi hidupnya. Selepas dari Sekolah Menengah Atas di Polewali Mandar, Naharuddin memilih kuliah di Fakultas Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Hakim Surabaya. Selama kuliah, Naharuddin menjadi peserta beasiswa dai sarjana BMH dan begitu lulus, langsung mendapatkan tugas dakwah di Ambon Maluku.

“Saat ini, setiap hari Ustadz Naharuddin berdakwah keliling ke desa-desa di sekitar Liang Ambon, beberapa desa telah menjadi binaannya, seperti Desa Negeri Riang, Kecamatan Salahutu, Ambon.Di sana ibu-ibu menjadi muridnya belajar Iqra untuk bisa membaca Alquran,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku, Ali Ikrom.

Dai berusia 28 tahun itu mengisahkan bagaimana awal mula memiliki binaan kaum ibu yang sampai saat ini istiqomah belajar membaca Iqra.

“Pada suatu hari, dalam perjalanan saya pulang dakwah dari desa yang cukup jauh, di tengah perjalanan tepatnya dekat masjid Tanjung Riang saya melihat sekumpulan ibu-ibu memegang buku Iqra. Dalam hati saya penasaran, buat apa ibu-ibu yang usianya sekitaran 40 sampai 60 tahunan itu masih memegang pelajaran anak-anak Taman Pendidikan Alquran. Setelah komunikasi, oh, ternyata mereka ingin bisa membaca Alquran,” tuturnya yang sudah setengah dekade tugas di Ambon itu.

“Sejak itulah, kegiatan belajar iqra’ ibu-ibu berlangsung. Hingga saat ini, sudah bergantian ibu-ibu yang belajar. Bahkan, kini tidak lagi sebatas belajar iqra’ ibu-ibu meminta kami untuk membuka majelis taklim. Alhamdulillah, sampai sekarang ibu-ibu sudah mulai lancar membaca Alquran dan majelis taklim berjalan secara rutin dan konsisten,” imbuhnya.

Meski demikian, Naharuddin ingin terus mengembangkan gerakan dakwahnya. Setelah beberapa tahun ada yang bisa membaca Alquran, ia pun menunjuk satu orang sebagai ketua, sewaktu-waktu dirinya harus menjalankan tugas di pulau seberang, pengajian dan majelis taklim tetap berjalan.

“Alhamdulillah, sekarang ada Ibu Lia yang menjadi ketua pengajian di sini. Jika Ustadz Naharudin tugas dakwah ke pulau-pulau sekitar Maluku, maka Ibu Lia lah yang mewakili mengajar ibu-ibu yang belajar membaca Iqra,” ucap Ikrom.

Antusiasme ibu-ibu di dalam belajar iqra sangatlah tinggi. Mereka berharap agar setiap pengajian, jam belajarnya ditambah.

“Kalau bisa kita mulai dari jam dua saja Pak Ustadz biar lama belajarnya,” ucap ibu Kunio yang disambut tawa ibu-ibu lainnya.

“Di sini saya merasa terharu, saat diri saya yang bukan siapa-siapa bisa memberi arti bagi sesama. Sekalipun ini harus sabar. Karena peserta didiknya bukan anak-anak, sehingga memang butuh kesabaran. Mohon doanya, tetap istiqomah dakwah di Ambon Manise ini. Kepada Laznas BMH Maluku, kami sampaikan terimakasih, karena dukungan selama ini menjadikan pergerakan dakwah terus berjalan lancar dan progressif,” tutur Ustadz Naharuddin.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *