Selama 33 Tahun, Baru Kali Ini Qurban di Dusun Kami

Kebahagiaan anak-anak Dusun Eran Batu usai nyate bersama pada Idul Adha 1437 H

Bagi masyarakat perkotaan qurban sudah pasti membahagiakan, selain karena qurban pasti menyembelih hewan qurban, kumpul bersama keluarga, tetangga menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu. Tetapi tidak dengan warga desa, terlebih yang berada di pedalaman, kepulauan dan perbatasan.

Seperti sebuah desa di Sulawesi Barat, yakni Dusun Eran Batu dan Dusun Pammuttu, Binuang, Polewali Mandar. Dusun yang bersekat hutan itu tidak saja terpencil tetapi jugat tidak mudah untuk dikunjungi. “Untuk ke tempat ini membutuhkan usaha yang tidak mudah,” kata Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Barat, Syamsuddin.

Betapa tidak, armada mobil yang mengangkut amanah hewan qurban tak dapat menembus sampai ke lokasi.

“Wal hasil, warga kampung berkerumun menjemput 2 ekor sapi dan 1 ekor kambing, sekira jam 00.00 di pematang jalan sebelum kampung,” tutur Syamsuddin.

Tidak itu saja, jika tidak diawasi, bisa saja tiba-tiba hewan qurban lepas dari tempat diikat. “Tahun lalu, seekor sapi sempat terlepas malam-malam. Untung tidak sempat lari menyusuri jurang atau bersembunyi di balik rimbun hutan,” ujar Syamsuddin menambahkan.

Menyalurkan hewan qurban ke desa-desa sungguh mendatangkan rasa haru yang tak tertahankan. Warga desa rata-rata tak mampu menahan rasa bahagianya.

“Ini adalah qurban yang pertama dilaksanakan di dusun kami, sepanjang usia saya. Alhamdulillah, terimakasih BMH, ini benar-benar luar biasa bagi kami,” ujar Kepala Dusun Amdan (33 tahun).

Anak-anak pun tak mau ketinggalan. Mereka kompak memakai baju paling baru yang mereka miliki. Selanjutnya mereka menusuk dan membakar sate secara berkelompok di kolong-kolong rumah warga.

“Ada kepuasan batin di sini. Andai saja senyum adalah pancaran kebahagiaan. Maka qurban para donatur di tempat ini benar-benar telah membahagiakan saudara-saudara kita di sini,” ucapnya mengenang.

“Semoga Idul Qurban 1438 H, kami bisa menyalurkan kembali qurban dari umat Islam untuk mereka yang hidup di desa terpencil ini dan desa-desa lain yang memiliki kisah keharuan tersendiri di setiap momentum qurban,” pungkas Syamsuddin.

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *