Hasbullah, Dai Tangguh yang Semangat Dakwah di Perbatasan

Bermula dari mengikuti pengajian di sebuah masjid sekitar rumah, Hasbullah mulai merasakan selalu ada yang kurang dalam ber-Islam.

Terlebih 00 sang ustadz yang memberi materi pengajian membahas tema sejarah para Nabi dan Rasul, di sana didapati dalam pembahasan bahwa nyaris semua turun ke medan dakwah memperjuangkan agama Islam ini.

Timbul pertanyaan dalam hatinya, kita ini seperti apa, apa hanya mau menikmati Islam ini saja tanpa ikut mendakwahkannya. Tentu ini bukan sebuah pilihan terbaik, pikirnya.

Waktu bergulir, pertanyaan sejenis ini terus menggelayuti pikirannya. Itu terjadi dalam kurun waktu 2 tahun, sekitar tahun 1995 sampai 1996.

Awal tahun 1997, setelah mendengar kabar beberapa anggota pengajian yang akan silaturrhaim ke Hidayatullah Balikpapan, pria kelahiran Sinjai tahun 1965 ini tak mau ketinggalan, ia ikut bersama rombongan. Sejak itu ia nyantri.

Di Balikpapan kurang lebih 7 bulan, Hasbullah menjadi peserta Nikah Mubarak 100 pasang. Selang beberapa waktu, usai dinikahkan, ia bersama istri di ‘kembalikan’ ke Sinjai kampung halamannya untuk melaksanakan tugas sebagai dai.

“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa ikut mendakwahkan Islam dengan kemampuan saya yang sangat terbatas ini,” ucapnya mengenang.

“Memang ini cita-cita saya, ikut mengurus agama Allah ini,” imbuhnya.

Medio 2009, Hasbullah kembali ‘diambil’ untuk tugas dakwah ke Tarakan Kalimantan Utara. Dan, tepat tahun 2015 kembali ia diterjunkan berdakwah di Sebatik Nunukan Kalimantan Utara hingga saat ini.

Karena mengabdi mendakwahkan Islam bagian dari cita-citanya, ayah enam anak ini tak menyesal atas pilihan menjadi dai.

Tidak sedikit aral dan cobaan yang menghadang. Namun semua ia usahakan untuk taklukkan demi mendakwahkan agama ini.

“Sekarang saya dakwah di perbatasan Indonesia – Malaysia di Pulau Sebatik ini. Semoga Allah istiqomahkan dalam dakwah. Keluarga bertanya, bukan lebh baik di tempat sebelumnya, tapi saya jawab, asal untuk dakwah di pulau terpencil atau perbatasan sekalipun, insya Allah tetap siap. Kita kan harus siap dan bersemangat tugas dakwah dimanapun,” katanya.

Dai Tangguh BMH adalah sosok-sosok manusia yang mendedikasikan umur dan hidupnya untuk dakwah. Mereka bukan orang ahli dalam urusan agama, namun mereka adalah orang yang terpanggil ikut serta mengurus agama Allah dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Melalui BMH, zakat dan sedekah Anda di antaranya akan disalurkan kepada para dai tangguh BMH, terutama di wilayah-wilayah perbatasan, pedalaman dan kepulauan. Melalui Program Dai Tangguh, mari wujudkan zakat dan sedekah yang memberdayakan dan mencerdaskan.*/Elonk

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *