Relawan tiba di Palu, Kondisi Memprihatinkan dan Banyak Kebutuhan Mendesak

Kondisi sebagian gedung di Pesantren Hidayatullah Palu pasca gempa berkekuatan 7,7 SR

“Alhamdulillah, tim BMH dan SAR Hidayatullah telah tiba di Palu,  malam ini selepas Maghrib waktu setempat,” terang Kepala BMH Sulawesi Barat yang memimpin rombongan relawan dari Mamuju melaporkan (29/9).

Sementara itu, Donggala yang menjadi titik gempa mengalami kelumpuhan total. “Puing rumah, Bangkai kendaraan, Berserak. Rata dengan tanah, berpuluh kilometer,” terang relawan yang berada di Donggala.

Situasi tersebut menjadikan warga harus mengungsi. “Beberapa di antaranya bahkan masih terpisah dengan keluarga. Tanpa bisa saling berkabar,” imbuhnya.

Kondisi semakin sulit ketika Jalur komunikasi terputus. “Listrik padam. Gelap gulita sepanjang Donggala – Palu,” tuturnya.

Dari info yang dihimpun relawan di lokasi, sejauh ini telah dikabarkan hampir 1. 000 orang dinyatakan meninggal dunia.

“Di titik-titik pengungsian. Air bersih, selimut, tenda dan pangan sangat dibutuhkan. Karena sampai saat ini, jalur menuju ke lokasi masih sulit ditembus, termasuk penerangan (genset), karena listrik padam,” terang Syamsuddin.

Kebutuhan urgen lainnya meliputi, masker untuk bayi, sarung tangan latek, alkohol steril, sepatu boot, suplemen, senter, skop.

Adapun untuk pengungsi dibutuhkan segera makanan instan, selimut, baju, pakaian bayi, pakaian dalam perempuan, obat, terpal, tikar, susu, dan pakaian sholat.

Jalur utama putus total, sehingga mesti melalui jalan alternatif yang cenderung cukup sulit dilalui.

Hingga detik ini, satu-satunya komunikasi yang dapat dilakukan hanya melalui sms dan telpon seluler. “Tidak ada internet, Alhamdulillah, masih bisa via sms dan telp,” ucapnya.

Semalam tim relawan BMH dan SAR Hidayatullah transit di Pesantren Hidayatullah Palu, yang beralamat di Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulteng.

“Kondisi pesantren, Alhamdulillah pengurus dan para santri selamat semua. Hanya saja, bangunan di pesntren luluh lantak,” jelas Syamsuddin.

Seorang relawan juga melaporkan perihal keadaan di lokasi dengan penuh perasaan di Donggala.

“Ya Allah, menetes air mata ini ketika tim relawan BMH Sulawesi Barat baru saja menelepon dan memberikan kabar, bahwasanya beliau sudah sampai di lokasi, kabarnya bangunan di kota Donggala rata dengan tanah, sepi, seperti kota mati, gelap gulita, bahkan puluhan kilometer jalan hancur. Diprediksi banyak korban jiwa meninggal. Mohon doa teman-teman agar para korban bisa segera dievakuas,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadikan kebutuhan akan relawan begitu besar. “Insya Allah akan ada tambahan tim relawan, via darat ada dari Makassar, empat di antara yang diberangkatkan akan terbang bersama pesawat hercules TNI,” terang Koordinator Lapangan Peduli Bencana Nusantara di Palu, Ahmad Hamim.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *