Rela Tiga Kali Terpelanting Demi Dakwah

Kamis pagi, 28 Desember 2017,Tim Relawan BMH memulai perjalanan dari Kabupaten Mamuju menuju Dusun Salurindu di Kabupaten Majene-Sulawesi Barat.

“Hari itu sudah terhitung lebih awal kami berangkat. Jelas ini untuk mengantisipasi segala kemungkinan kami berkunjung ke desa binaan di Salurindu,” tutur Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Barat, Syamsuddin.

Setengah jam perjalanan, langit mendung tiba-tiba dan tanpa jeda langsung menitikkan butiran-butiran air. Tak ada pilihan, rombongan dipaksa menepi dan berteduh.

Sekian lama berlangsung, tak jua muncul tanda-tanda untuk itu. Perjalanan pun kembali dilanjutkan, meski konsekwensinya jas hujan yang sedianya dipakai harus direlakan untuk menutupi barang-barang bawaan.

Terang saja, rombongan basah kuyup sepanjang jalan. Namun Alhamdulillah sound system masjid serta buku-buku Iqra anak-anak dapat terlindungi. “Lega,” ucap Syamsuddin.

Tetapi, tantangan belum usai. Hingga di jalur Malunda – Salurindu, hujan mengguyur semakin lebat. Kondisi jalan pun semakin tak bersahabat. Ruas jalan yang didominasi tanjakan dan turunan ini menjadi licin dan berlumpur.

Bisa ditebak apa yang kemudian akan mewarnai perjalanan dakwah ini. “Ustadz Jamal (anggota Tim BMH), 3 kali terpelanting bersama motor dan buku iqra’ yang ia bawa. Sekujur tubuh dan barang bawaannya pun berwarna lumpur. Tapi tekadnya lebih kuat dari tantangan itu, Ustadz Jamal bangkit dan segera merapikan semuanya dengan tanpa ada wajah berkeluh kesah sedikitpun,” terang Syamsuddin.

Di beberapa titik, tak jarang rombongan berhenti mengatur nafas, lalu sama-sama menggotong motor yang mereka tunggangi, bergiliran. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk meninggalkan motor di balik semak belukar, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 0,5 KM untuk sampai di lokasi.

“Pejalanan kali ini benar-benar menguras waktu dan energi yang lebih banyak. Perjalanan dari Mamuju ke Salurindu yang biasanya kami tempuh selama 3 jam perjalanan, kali ini harus ditempuh selama 6 jam. 2 kali lipat dari biasanya,” ungkap Syamsuddin.

Malam harinya rombongan tim beristirahat di masjid, sembari menyiapkan pemasangan toa dan sound system.  Beberapa balon lampu yang tersambung pada mesin genset, menjadikan masjid ini tampak mencolok di antara rumah-rumah warga yang hanya menggunakan lampu minyak tanah. Ya, hingga saat ini, listrik belum menjangkau dusun Salurindu.

Demikian sekelumit kisah perjalanan dakwah dan pemberdayaan yang dilakukan oleh Laznas BMH. Masih ada daerah-daerah lain seperti Salurindu yang tentu saja membutuhkan kepedulian kita bersama untuk ikut serta mencerdaskan mereka, memberdayakan mereka dan pada akhirnya mereka bias berkontribusi nyata bagi lingkungan dimana mereka berada.

Zakat dan Sedekah adalah sarana terbaik umat untuk mewujudkan perubahan berkesinambungan. Mari rapatkan barisan, bersama BMH wujudkan pemberdayaan masyarakat terdalam, terdepan, dan terpencil.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *