Ramadhan Bersama Suku Togutil dari Buka Puasa hingga ke Hutan

Suasana pembagian bantuan kepada warga Suku Togutil mulai dari bahan makanan hingga pakaian (7/6)

Atas berkat dan rahmat Allah Ta’ala, Tim Ramadhan Laznas BMH Bersama Suku Togutil berhasil menjalankan program permulaan bagi pemberdayaan masyarakat.

“Alhamdulillah, tim sukses menjalankan amanah, mulai dari buka puasa bersama yang dilaksanakan di Masjid Nurul Huda yang berada di Desa Woda Kecamatan Oba Kabupaten Tidore Kepulauan, kemudian dilanjutkan prosesi syahadat dan penyerahan bantuang langsung ke hutan dimana bivak-bivak Suku Togutil berada,” ujar Direktur Program dan Pendayagunaan BMH Pusat, Dede Heri Bachtiar (8/6).

Nampak masyarakat Togutil sangat membutuhkan kepedulian kita bersama untuk mendorong mereka menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

“Untuk Suku Togutil yang dekat dengan Desa Woda ini, dari sisi kemanusiaan, mereka memiliki ciri khas yang mengagumkan. Mereka memiliki rasa malu yang tinggi, tertib kala menunggu giliran mendapatkan bantuan dan saling melindungi satu sama lain,” ujar dai tangguh BMH, Ustadz Nur Hadi.

Prosesi Syahadat 30 warga Suku Togutil di Masjid Nurul Huda di Desa Woda Kecamatan Oba Kabupaten Tidore Kepulauan (6/6)

Ketika Tim Ramadhan Bersama Suku Togutil berangkat ke lokasi bivak dimana mereka tinggal, hal tersebut semakin terbukti nyata.

“Tinggal di bivak yang selalu berpindah-pindah, mereka memang sangat kuat solidaritas atas sesamanya. Jika belum mendapat giliran, mereka bisa antri, tertib. Tidak kemudian berebut takut tidak kebagian,” ujar Dede.

Untuk bisa sampai ke lokasi bivak Suku Togutil ini, tim harus menyusuri jalan sepanjang 15 kilo meter dengan menggunakan truk.

“Kondisi jalannya sempit, penuh lubang dan pada beberapa titik mengalami kemiringan ekstrem, sehingga selalu berdoa dalam perjalanan semoga truk berjalan dengan selamat,” papar Dede.

Setiba di tepi sungai, Suku Togutil ini sudah siap menunggu. Mereka pun ikut membantu menurunkan bahan bantuan yang akan mereka terima, untuk selanjutnya dibawa secara gotong-royong ke bivak mereka yang sebenarnya sudah ditinggalkan.

“Tidak lagi di sini. Kami sudah pindah ke seberang sana (sungai),” ujar Pak Udu menerjemahkan ungkapan kepala suku, Lepa.

Seorang ibu bersama anak Suku Togutil menyeberangi sungai dengan ketinggian air yang kurang tepat untuk anak-anak melintasi (7/6)

Subhanalloh, ketika prosesi penyerahan bantuan tuntas, mereka pun memikul bahan bantuan yang berupa beras dan sebagainya, termasuk pakaian menyeberangi sungai.

“Yang lelaki dewasa menyeberang lebih dahulu dengan memanggul beban, kemudian disusul ibu dan anak-anak yang dilakukan secara berkelompok dengan cara menyeberang dari sisi hulu dan kemudian mengikuti arus sungai secara menyilang untuk kemudian berhenti di titik dimana mereka mudah naik dan meninggalkan sungai,” jelas Nur Hadi.

Prosesi penyerahan bantuan ini berjalan penuh emosional, karena satu di antara anggota mereka yang sekarang memiliki nama hijrah, Umar, bisa datang dan berkomunikasi dengan mereka setelah menempuh masa pembinaan di Pesantren Hidayatullah Ternate selama hampir satu bulan.

Dua wanita Suku Togutil telah belajar menggunakan jilbab pemberian dari kaum Muslimin kepada Laznas BMH (7/6)

Situasi itu memudahkan mereka dapat begitu mudah saling percaya, sehingga suasana persaudaraan, sekalipun terkendala bahasa, karena Suku Togutil tidak bisa berbahasa Indonesia, namun aura persaudaraan begitu terasa.

“Sungguh suatu momentum istimewa BMH mendapat kepercayaan umat untuk bisa langsung bertemu mereka. Satu sisi prihatin, satu sisi kita bisa belajar bahwa bagaimanapun manusia adalah makhluk fitrah, yang jika disentuh tentu saja akan membangkitkan kesadaran diri untuk senantiasa peduli,” urai Dede.

Ke depan, selain bantuan berupa bahan makanan untuk membuat warga Suku Togutil merasa nyaman dengan kehadiran kita, Laznas BMH sendiri bermaksud membangun Rumah Singgah unguk Suku Togutil yang lokasinya berada di Sofifi, sebagai centra pembinaan mereka agar mampu berbudaya dan bermasyarakat.

“Hal itulah yang akan kami lakukan sebagai program jangka pendek, agar pemberdayaan Suku Togutl ini dapat berjalan secara berkesinambungan, integratif dan transformatif berdasarkan nilai-nilai universal kita sebagai manusia, dan lebih istimewa sebagai Muslim, karena pada kenyataannya mereka telah bersyahadat,” tutup Dede.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *