Perjalanan Dakwah Sempat Hampir Kelaparan, Tapi Gagal

Ustadz Muhammad Faris (25) adalah sosok langka, sebab di usia yang masih muda beliau rela mendedikasikan hidupnya di jalan dakwah. Jalan yang secara materi tidak menjanjikan apapun.

“Jalan dakwah ini merupakan pilihan, mengalokasikan seluruh tenaga dan waktu kita untuk menolong agama Allah, jadi bukan mengejar dunia memang,” tutur suami dari Ustadzah Nurul Jannah itu saat ditemui BMH di Langkat Sumatera Utara.

Terbukti memang, dalam menjalankan amanah dakwah kerapkali terasa pertolongan Allah, sangat dekat, sangat cepat.

“Pernah suatu waktu, saya dan keluarga dan santri kehabisan sembako. Yang tersisa tinggal beras, itupun cukup untuk makan malam.

Alhamdulillah, paginya tiba-tiba kami buka SMS. Oh, ya Allah, ada alumni santri dari Nias (Alumni MTs Th 2015) yang nanya kabar dan ujungnya nanya nomor rekening.

Setelah kami kirim nomor rekening, beberapa menit kemudian di-SMS lagi. Ngabarkan kalo dia ngirim uang Rp 250.000. Katanya untuk jajan.

Langsung saya ucap ‘Alhamdulillah’ di dalam hati, bisa juga beli beras dan sayur. Gagal ini kelaparan,” ucapnya seraya tersenyum bercanda.

Setelah setengah dekade bertugas di beberapa daerah di Sumut, akhirnya, Ustadz Muhammad Faris tugas di Kelurahan Pekan Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Kini sehari-hari beliau merintis pengembangan Pesantren Hidayatullah di sana.

“Alhamdulillah, sehari-hari mendidik anak-anak belajar Al-Qur’an dan praktik life skill. Karena memang perintisan, jadi banyak wahana anak-anak santri bisa ikut belajar sekaligus berlatih,” ujar ayah dari tiga anak itu.

Untuk dakwah ke masyarakat, Ustadz Faris, demikian sapaan akrabya biasa secara rutin mengisi kajian warga setiap selesai sholat Maghrib.

Saat ini program yang baru saja usai dijalani adalah rehab asrama eks rumah kosong tak terawat dari masyarakat. “Alhamdulillah, minta dimanfaatkan di jalan Allah, sekarang sudah jadi asrama santri,” ucapnya bahagia.

Kepala BMH Perwakilan Sumatera Utara, Lukman bin Thalib mengaku terharu dengan kiprah Ustadz Faris.

“Sangat mengharukan. Di sinilah mengapa masyarakat perlu mengenal dakwah, tantangan, dinamika, dan kesabaran para dai dalam menjalankan tugas mulia untuk Islam ini.

Kita jelas tak bisa seperti mereka, tetapi kita bisa membantu mereka dari sisi yang kita miliki, agar diri kita juga tercatat sebagai orang yang ikut menolong dan peduli terhadap agama-Nya,” tutupnya.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *