Pemberdayaan Muallaf Togutil

Togutil, nama ini mencuat dan menjadi buah bibir banyak kalangan ketika pertamakali dai tangguh BMH dibantu warga desa setempat dan mitra dakwahnya, berhasil memenuhi keinginan sebagian masyarakat yang berdomisili di hutan memeluk agama Islam (16 Oktober 2016).

Togutil adalah nama, atau tepatnya identitas yang disematkan kepada mereka yang hidup di hutan-hutan atau bahkan rimba yang ada di Pulau Halmahera.

Ciri-ciri mereka, hidup dengan belum mengenal budaya, sehingga sebagian besar belum mengenal konsep pakaian (selain organ vital) dan mereka hidup dengan cara berburu dan nomaden.
Dai Tangguh BMH – Ust. Nur Hadi

Namun demikian, menurut informasi dai tangguh BMH yang bertugas di Halmahera, Ustadz Nur Hadi, mereka yang disebut dengan Suku Togutil tidak homogen.

“Semua yang masih hidup berpindah-pindah dengan berburu baik di rimba maupun di hutan, disebut Togutil. Oleh karena itu, jenis Togutil tidak homogen.

Ada yang seperti keturunan Portugis dengan kulit putih, rambut pirang dan mata biru. Tidak sedikit yang secara fisik seperti orang Maluku Utara pada umumnya, dan rata-rata mereka berbahasa Tobelo Dalam,” tuturnya.

Menurut aparat Desa Woda Kecamatan Oba Kabupaten Tidore Kepulauan, Suku Togutil disebutkan berasal dari warga bangsa di negeri ini yang memilih masuk ke hutan atau rimba pada masa penjajahan Belanda untuk menghindari membayar upeti dan dibawa keluar Halmahera Utara.

Kondisi Suku Togutil, Saat awal ditemui oleh tim BMH di dalam hutan Halmahera

“Mungkin, karena mereka benar-benar ingin terbebas dari pengaruh penjajahan Belanda, mereka tidak sadar sudah sangat jauh masuk ke dalam hutan,” jelasnya.

Menariknya, Suku Togutil sangat menyatu dengan alam. Tidak ada dingin dalam kehidupan mereka, meski hidup tanpa busana.

Ketika Kru Ramadhan BMH Bersama Suku Togutil tidur di Masjid Nurul Huda yang berada di Desa Woda merasakan ganasnya gigitan nyamuk sepanjang malam dengan udara yang terasa dingin, hal itu tidak bisa disamakan dengan Suku Togutil.

“Mereka sudah menyatu dengan alam, kita tidak bisa memahami. Tetapi sudah jelas, mereka sangat biasa dengan malam tanpa helai pakaian dan tentu saja, nyamuk akan seperti apa. Terlebih kala malam larut dan hujan turun. Sebagian dari mereka mengaku, jika hal itu terjadi, mereka tidur di atas pasir,” kisah Ustadz Nur Hadi menceriterakan.

Bahkan, yang tidak kalah menakjubkannya adalah anak-anak mereka.

Anak-anak Suku Togutil yang sedang menikmati jajanan yang telah dibagikan

“Begitu anak Suku Togutil sudah bisa berjalan secara baik, maka sejak itu tidak ada istilah digendong lagi. Setiapkali kelompoknya pindah tempat, maka anak-anak itu sekuat tenaga harus berjalan mengikuti rombongannya meski dengan tertatih-tatih. Makanya, biar anak-anak kecil, kuat sekali mereka jalan,” imbuh Ustadz Nur Hadi.

Terlihat salah satu anak perempuan dari mereka yang terus mengikuti kemana ibunya hendak bepergian

 

________________________________________________________________________________

Masuk Islam

Namun, kejadian di luar nalar terjadi sejak menjelang Ramadhan dan sepanjang Ramadhan 1438 H. Sebagian kelompok Suku Togutil ditemukan keluar dari hutan dan ditemukan warga.

Setelah melalui beberapa tahapan, mereka menyatakan diri ingin hidup berbudaya dan menjadikan Islam sebagai keyakinan.

Suku Togutil saat pertama kali menyatakan diri untuk masuk dan memeluk Islam yang disaksikan oleh warga sekitar (di luar hutan)

 

“Kami awalnya terkejut, karena tiba-tiba mereka ingin masuk Islam. Padahal, kami tidak mungkin menjelaskan agama kepada mereka.

Pertama, bahasa kita tidak sama, kami tidak saling paham. Kedua, mereka tentu tidak mengenal apa itu Islam. Entah darimana mereka kemudian ingin menjadi Muslim,” ungkap Ustadz Nur Hadi.

Akan tetapi, keinginan itu dipenuhi. Mereka pun berkumpul dan bersyahadat di sebuah masjid di Maba Utara. Kemudian disusul oleh gelombang berikutnya tepat pada saat Ramadhan.

“Selama Ramadhan ini sudah lebih dari 70 orang menyatakan sukarela memeluk agama Islam. Sekarang ada tiga anak muda dari kalangan Suku Togutil yang menetap untuk belajar di Pesantren Hidayatullah Ternate,” papar Ustadz Nur Hadi.

Baca Juga : http://www.bmh.or.id/hidayah-menyapa-21-warga-pedalaman-suku-togutil/

Bahkan, belum berpisah dengan Ramadhan, kala Ustadz Nur Hadi melakukan pembinaan di Maba Utara, sekelompok dari Suku Togutil ingin juga masuk Islam.

Prosesi syahadat suku Togutil yang ketiga kalinya di Ternate – Halmahera

“Kami sebenarnya hanya fokus ingin membina mereka yang sudah masuk Islam. Tetapi di antara mereka mengungkapkan kenapa ingin menjadi Muslim. “Saya ingin seperti teman saya ini, anak saya, keluarga saya, sejak jadi Muslim, saya lihat hidupnya lebih baik, tidak kelaparan dan wangi,” ucap Ustadz Nur Hadi menirukan alasan mengapa gelombang Suku Togutil masuk Islam berjalan terus.

Seiring dengan itu semua, tantangan besar pun hadir, yakni bagaimana membina Muallaf Togutil ini. Sebab mereka telah menjadi bagian dari umat Islam, sementara budaya mereka nomaden dan hidup di tengah hutan.

Pada saat yang sama, pola transformasi yang harus dilakukan tidak mudah, mengingat sangat tidak mungkin membina mereka di dekat hutan. “Oh, tidak bisa dibina di dekat kehidupan mereka, kalau tiba-tiba tidak nyaman, mereka bisa seketika kembali ke hutan, ini akan sangat merepotkan,” papar seorang warga desa memberikan saran.

 

______________________________________________________________________________

Pembangunan Rumah Singgah

Mengakomodir pendapat warga dan perangkat desa tentang bagaimana membina Muallaf Togutil, maka ditetapkanlah Program Pembangunan Rumah Singgah yang rencananya akan dibangun di Sofifi.

“Alhamdulillah, kami ada lahan seluas satu hektar, di sana rencana kami akan bangun Rumah Singgah sebagai sentra pembinaan Muallaf Togutil. Harapannya, keluar dari Rumah Singgah, mereka yang telah terbina sudah siap untuk hidup berbudaya. Di antaranya dengan belajar bercocok tanam,” papar Direktur Program dan Pendayagunaan BMH Pusat, Dede Heri Bachtiar.

Baca Juga : http://www.bmh.or.id/ramadhan-bersama-suku-togutil-dari-buka-puasa-hingga-ke-hutan/

Dengan demikian, maka pembinaan Muallaf Togutil diharapkan dapat berjalan secara efektif. “Hanya saja, tidak mungkin ini dibebankan pada kami seluruhnya, butuh sinergi dan kontribusi dari seluruh kalangan umat Islam,” tegas Ustadz Nur Hadi.

Jadi, mari bersama Laznas BMH kita hadirkan indahnya cahaya Islam kepada Muallaf Togutil, mengubah mereka dari masyarakat rimba menjadi masyarakat Muslim yang tidak saja semakin berbudaya, tetapi tercerahkan dengan ajaran Tauhid.

Kondisi saat Suku Togutil menikmati hidangan buka puasa bersama, walaupun mereka baru mengenal puasa secara langsung karena mereka masih belajar berpuasa dan alhmdulillah mereka sudah berpakaian lengkap

Kepedulian dan kontribusi Anda untuk program ini adalah ikhtiar terbaik sepanjang hidup untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.

Sebab, hidayah yang bersarang di dalam dada anak manusia akan menjadi penyelamat kehidupan siapapun yang peduli dan berkontribusi, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga : http://www.bmh.or.id/dai-tangguh-bmh-habiskan-ramadhan-di-hutan-halmahera/

Mari gunakan kesempatan emas ini untuk menjadikan diri kita, ilmu kita, dan harta kita berarti luar biasa bagi sesama dalam merengkuh cahaya Islam.

______________________________________________________________________________
Memuliakan Suku Togutil, Karena Mereka Juga Saudara Kita

Bagi Para Dermawan yang dimuliakan Allah SWT, dengan panggilan amal soleh ini kami mengajak untuk dapat ikut ambil peran dan memberikan harapan bagi saudara kita (Suku Togutil) yang saat ini mereka baru menemukan pemahaman dan tujuan hidup untuk mengenal kehidupan secara utuh, mendekat dan mengenal islam sebagai perantara untuk mengenal Tuhan mereka.

Kami yakin bahwa Allah SWT memang hadirkan mereka di tengah-tengah kita tiada lain tiada bukan untuk dapat kita menanamkan rasa cinta dan kepedulian kepada sesama. Begitulah Allah menitipkan sebuah amanah yang kemudian harus kita ambil langkah kongkrit, ini semua adalah bagian dari “siapa diantara kita yang paling baik amalannya” yang kelak sama-sama akan kita hadapkan kepada Rabbul Aalamiin sebagai saksi Keimanan dan Keislaman kita kepadaNya.

Semoga goresan informasi terkait Suku Togutil ini, membawa keberkahan dan manfaat bagi kita dan saudara kita lainnya.

Untuk mendapat informasi program lanjutan Pemberdayaan Muallaf Suku Togutil dapat mengakses link berikut :
http://bit.ly/Program-Togutil

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *