Pelajaran Indah dari Musibah Banjir Bantaeng

Musibah banjir bandang Bantaeng telah merenggut kebahagiaan warga yang terdampak. Namun, di balik itu semua ada banyak pelajaran, hikmah, dan keberkahan yang Allah hadirkan. Hal ini dikisahkan oleh Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Syamsuddin akhir pekan lalu.

Sejak 12/6/2020 tim relawan BMH bergabung dengan Tim SAR Hidayatullah yang datang lebih awal beserta tim relawan lainnya, turut membantu di lokasi yang terdampak banjir.

Syamsuddin melaporkan bahwa selama dua hari tim relawan sudah melakukan banyak hal, terutama membantu warga yang masih terisolasi di tempat tinggalnya, membersihkan rumah yang terendam lumpur, membagikan air bersih karena dampak banjir ini membuat warga sulit untuk memasak sendiri, sehingga kebutuhan air sangat vital.

“Musibah ini terbilang banjir bandang sebab meliputi beberapa tempat desa bahkan kelurahan di kota Banteng,” katanya.

Setiap hari para relawan sibuk membersihkan lumpur di sekitar rumah warga Kecamatan Bisappu.

Ketika melakukan aksi mereka saling berbaur walau tetap menjalankan protokol sosial distancing berupa penggunaan masker, meskipun wilayah masih termasuk zona aman dari Covid-19, akan tetapi relawan tetap berbagi masker pada warga.

“Untuk pemulihan diperkirakan sekitar satu pekan ke depan apabila tidak ada susulan. Kita prinsipnya mengambil bagian karena teman-teman tidak bisa menyelesaikan semua persoalan yang ada, menjadikan sebagai jalan-jalan kebaikan, peluang-peluang amal sholeh,” jelasnya.

Beberapa jenis barang yang dibutuhkan warga yang terdampak yaitu: pertama, kebutuhan makanan pokok yang siap saji, karena mereka masih fokus pada kondisi barang atau fasilitas yang tersisa, serta ketersediaan air masih minim.

Kedua, sembako karena beberapa bahan pokok warga terendam banjir, bahkan beberapa toko-toko mengalami hal yang sama. Serta akses masih sangat sulit, karena jalan masih tertutupi lumpur.

Kondisi warga cukup tenang, tidak panik bahkan ramah pada relawan, serta turut membantu semampu mereka, bahkan terlihat teratur tanpa ada yang monopoli ketika pembagian air. Mereka mengambil secukupnya sesuai kebutuhan, dan tetap memikirkan teman, tetangga yang juga membutuhkan.

Terakhir, Syamsuddin menyampaikan beberapa hikmah ketika berada di lokasi banjir, yaitu pentingnya penghematan penggunaan sumber daya, khususnya air, sebab kondisi seperti ini semua orang membutuhkannya, bahkan dengan kondisi air tidak sejernih biasanya saling berlomba-lomba untuk mendapatkan.

Kemudian begitu pentingnya menjalin komunikasi dengan tetangga, sebab yang pertama datang tatkala rertimpa musibah adalah tetangga.

Dan, terakhir musibah menjadi bagian dari mempererat silaturrahim.*/Sahlah al-Ghumaishaa’

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *