Orang Tua Pintu Surga Pertengahan

Adalah Mayor (B) Ahmad Radzi Hashim (69) tahun. Seorang mantan pilot dan Kepala Sekolah Aerospace Flight Academy Malaysia.

Suatu hari, ia berbagi kisah pengalaman peribadinya di hadapan banyak orang. “Ini adalah kisah kasih sayang ibu dan bapak, ” katanya dalam sebuah video pendek.

Ia mengaku, apa yang dia ceritakan mungkin dianggap mengungkap sebuah aib keluarga. Bagaimanapun, ia hanya ingin mengambil pelajaran bagi banyak orang atas kisah ini.

Menurutnya, ia menceritakan pengalaman ini karena usianya sudah di ambang batas. “Usia saya sudah maghrib, mungkin sudah isya’,” katanya.
Hashim mengaku memiliki 11 anak, 5 perempuan dan enam laki-laki.

Semua telah dianggap sukses dalam karir, ekonomi dan rumah tangga masing-masing. “Masing-masing punya mobil. Ada yang satu, ada yang dua. Ada yang punya BMW ada yang punya Mercedes, ” katanya.

Namun sukses dunia, rupanya tidak berbanding lurus dengan rasa bakti pada orang tua. Menurutnya, 6-7 bulan sekali mereka baru menelpon dan menanyakan kabar kesehatanya.

Suatu hari dia pulang dari bepergian dan tiba di bandara dengan membawa banyak bawaan. Ia menelpon anaknya untuk meminta bantuan penjemputan.

“Tolong nak, jemput ayah dengan mobil,” begitu permintan Hashim pada anaknya.

Hashim menunggu anaknya sampai dua jam. Namun yang ditunggu tidak datang.
Ia akhirnya memutuskan pulang dengan naik bus. Namun ketika ia telah sampai di KL Center, salah satu anaknya menelpon, “Ayah di mana? Saya telah sampai di Bandara”. Hashim kemudian membalas anaknya, “Sudah tidak apa-apa nak, Ayah telah sampai di rumah.”

Di depan banyak orang itu, ia mengaku tidak sedang kecewa atau memarahi anak-anaknya. Namun ia mengaku, dirinya sedang merasa kecil hati kepada dirinya sendiri, sebab, dulu ia telah melakukan hal yang sama kepada bapak/ibunya.

“Saya berkecil hati, sebab, begitulah apa nak saya buat pada ibu bapak saya.”

Ia mengakui, semenjak sukses, tidak pernah sekalipun mencium tangan ibu/bapaknya. Ia bahkan mengakui jarang membelikan keduanya baju atau pakaian.

“Itulah yang (mungkin) Allah lakukan kepada saya hari in, apalagi di akherat nanti,” katanya sambil menangis.

Ia mengakui dalam Al-Quran dan hadits, sudah tidak perlu disebutkan lagi anjuran memuliakan bapak dan ibu.

Menurutnya, apapun tindakan kita menyakiti kedua orangtua, kelak tidakan itu akan juga membalas pada diri kita sendiri.

Dalam pesanya ia mengatakan agar berbaik-baik dan memuliakan kedua orang tua. Mumpung masih hidup, dan yang masih memiliki kedua orang tua, muliakanlah mereka.
“Peluk mereka, cium mereka, belikan mereka sandal meski harganya dua ringgit (Rp 7000).”

Menurutnya, orang tua tidak pernah terpikir soal pemberian anak. Karena hadiah kecil itu hanyalah mengingatkan mereka dan bentuk rasa kasih sayang dari anak anaknya.

Hasjim menyampaikan kisah ini karena mengaku sudah terlambat dan sudah tidak memiliki kedua orang tuanya. Ia mengakui, kini, ia memiliki mertua yang sakit, tidak boleh bergerak dan sehari-harinya hanya di atas tempat tidur saja.

Ia mengaku kesempatan dengan mertuanya ini tidak ia sia-siakan.

Setidaknya ini dilakukan sebagai peluang dan kesempatanku untuk memperbaiki diri.

“Saya jaga dia, saya mandikan dia, saya buang pampers nya, saya buang kotoranya, saya lakukan ini setiap minggu.”

Hashim melakukan semua ini untuk mengganti semua yang belum pernah ia lakukan kepada kedua orang tuanya. Ia juga beralasan agar Allah mengampuni semua kesalahannya di masa lalu.

Hikmah cerita ini adalah; Pertama, berbuat baik tidak pernah terlambat. Lakukanlah selama kita masih sehat dan mampu, sebelum menyesal kemudian.

Kedua, Rasulullah ﷺ bersabda; “Orang tua merupakan pintu Surga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut.”. (HR. Ahmad). [] Hadijah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *