Nelayan yang Guru Mengaji ini Sedih Kala Harus Menolak Santri

Pak Ridwan dan Ibu Masitah merupakan sosok yang sangat inspiratif. Terlepas dari keadaan dirinya yang berprofesi sebagai nelayan dengan pengahasilan 200 ribu per bulan, keduanya tetap mengabdi kepada umat dengan mengaji guru ngaji.

Kesedihan keduanya, bukan pada kondisi dirinya, tetapi ketika harus menolak murid untuk belajar mengaji karena faktor terbatasnya tempat mengaji yang tersedia.

“Ada 40-an anak belajar mengaji, karena keterbatasan tempat kami menolak, sampai anak-anak menangis karena tidak bisa ikut mengaji,” terang Ridwan.

Mengetahui hal tersebut, BMH Nusa Tenggara Barat pun melakukan survei ke lokasi.

Usai bersilaturrahim, memang ada harapan besar hadir aghnia (orang yang berkemampuan secara finansial) atau dermawan yang bisa membantu
membangunkan tempat ngaji mereka.

“Saat ini untuk ngaji 40 orang kondisinya sudah sesak tempatnya,” ucap Kepala BMH NTB, Abdul Kholik.

BMH sendiir akan coba untuk membantu membangun tempat ngaji yang lebih baik, serta mensupport kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an di sana.

“Kami BMH akan coba untuk membantu dan memfasilitasi kaum dermawan yang tergerak membantu perjuangan sepasang guru mengaji ini,” tuturnya.

Lokasi dari tempat mengaji tersebut ada di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela Kota, Mataram Nusa Tenggara Barat.*/Herim

 

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *