Nabi Ibrahim dan Niat Pak Najib untuk Berqurban

Tak terasa Idul Adha di depan mata. Sebuah sejarah luar biasa dan tak asing di telinga kita tentang banyaknya kisah yang menginspirasi dan menumbuhkan keimanan pada kuasa Allah.

Begitu banyak kisah penggugah iman baik dari kalangan terdahulu maupun baru baru ini. Salah satunya kisah bersejarah diabadikan dalam Al-Qur’an. Kisah tentang seorang Ayah bersama putra tunggal di gurun tandus.

Di sanalah kisah pengorbanan luar biasa dimulai. Pengorbanan seorang ayah menunggu kehadiran buah hati di tengah tengah keluarganya.

Pengorbanan mengutamakan kesabarannya dalam doa yang tak pernah putus karena selalu berharap pada Allah tanpa putus asa.

Setelah Allah kabulkan segala jerih payah, doa, dan usahanya berupa karunia anak, Allah kembali menguji pengorbanannya dalam bentuk ketaatan.

Allah memerintahkannya untuk meninggalkan isteri dan buah hati yang lama ia nantikan. Ia juga mengorbankan perasaannya dan menukar dengan ketaatam saat Allah memerintahkan untuk menyembelih anak yang hakikatnya sangat diidamkan sejak berpuluh tahun.

Lagi lagi ia rela berkorban. Demi ketaatannya pada Rabbnya.

Masih banyak lagi poin ketaatan yang dapat kita ambil dari bapak tauhid, yakni nabi Ibrahim as.
Terkait tentang pengorbanam di atas tentu dari kita sedikit banyak memiliki sekelumit kisah inspiratif tentang pengorbanan.

Sebut saja Pak Najib (bukan nama sebenarnya). Beliau adalah satu di antara pemulung di pinggir kota. Sewajar pemulung lainnya. Upah pak Najib dalam sehari kisaran 5.000 sampai 10.000 rupiah perhari.

Mencari barang rongsok untuk dijual kembali. Namun, ada hal besar yang membedakan pak Najib dengan rekan pemulung lainnya yakni ia memiliki niat luar biasa untuk bisa membeli hewan kurban.

Setiap hari selalu ia sisihkan barang seribu atau seribu lima ratus untuk niat besarnya tadi.

Alhasil beberapa tahun kemudian Allah menyampaikan niat pak Najib dengan hasil menakjubkan. Tak hanya sekedar membeli hewan kurban pak Najib juga sengaja memilih hewan kurban yang terbaik.

Satu satunya alasan pak Najib hingga istiqomah mempertahankan niat qurbannya adalah karena Allah memberi kemudahan.

Kemudahan berupa keistiqomahan menjaga niat. Lalu bagaimana dengan kita yang bekerja tidak harus memulung? bahkan pendapatan tiap bulan sampai jutaan rupiah?

Aplikasi berkurban memiliki arti yang dalam. Setidaknya kita harus naik kelas membuktikan bahwa kita memang berniat untuk berkurban.

Tahap pengorbanan kita tak lagi memaksa hati untuk bersabar dalam ujian dan ketaatan saja. Sebagaimana pak Najib dengan pengorbanan niat dan kesungguhannya membeli hewan kurban tentu kita dengan pendapatan lebih banyak darinya tak perlu lagi dipertanyakan.

Tentu hal di atas tak terlepas dari teguhnya niat kita. Seperti pak Najib yang mengumpulkan ribuan demi ribuan rupiah. Jumlah yang kecil namun istiqomah.

Sekecil apapun usaha kita tapi di baliknya terdapat niat yang kuat insha Allah tujuan kita akan tercapai.

Sebaliknya sebesar apapun usaha jika tak diimbangi dengan niat sungguh sungguh walau sekaya apapun kita, sebanyak apapun harta atau malah ribuan hewan ternak yang kita miliki niscaya tak akan pernah terlaknasa kecuali dengan adanya niat. Wallaahua’lam.*/Rifqiyati Hudayani_alumni STIS Hidayatullah Balikpapan

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *