Mengapa Kita Perlu Membahagiakan Muallaf?

Mengapa muallaf harus dibantu, bahkan syariat memberikan hak kepada mereka untuk mendapatkan pendayagunaan dana zakat, sepertinya dapat ditemukan jawabannya di lapangan.

Seperti yang dialami oleh Muallaf Baduy. Memutuskan diri berhijrah, bersyahadat, dan ber-Islam, membuat mereka harus keluar dari kampung halaman tanpa hak apapun.

Tentu saja, itu bukan hal yang ringan bagi kebanyakan manusia. Tetapi, mereka yang memilih menjadi muallaf benar-benar telah berkorban untuk memeluk kebenaran Islam.

“Konsekuensi yang dihadapi para muallaf sungguh tidak ringan, hanya karena hidayah semata yang menjadikan mereka teguh, kuat, dan senantiasa berusaha istiqomah. Di sinilah lembaga zakat mesti berperan, sekalipun tidak mudah, karena rata-rata muallaf yang BMH tangani itu di pedalaman, terpencil, dan pelosok, yang untuk tiba di lokasi saja, sudah butuh pengorbanan, minmal waktu dan tenaga juga biaya,” terang Direktur Utama Laznas BMH, Marwan Mujahidin.

Kenyataan tersebut mendorong Mandiri Amal Insani, Laz di bawah Bank Mandiri menjadikan BMH sebagai mitra strategis dalam program membahagiakan para muallaf melalui program Bangun Rumah Muallaf Baduy.

Sekretaris Pengurus MAI Iwan Rudiana menjelaskan bahwa BMH adalah Laz yang secara frontal berani berhadapan langsung dengan para muallaf pedalaman.

“Kami melihat, BMH-lah yang selama ini dikenal berani, frontal langsung berhadapan dengan para muallaf pedalaman. Inilah kenapa MAI memilih BMH sebagai mitra sinergi dalam program ini,” ucapnya di Leuwidamar, Lebak, Banten, usai sambutan saat peresmian dan serah terima rumah Muallaf Baduy akhir pekan lalu.

Yang tidak kalah menggembirakan adalah para muallaf yang sangat berterimakasih seakan itulah jawaban yang selama ini mereka nantikan dari Allah Ta’ala.

“Saya berjanji akan lebih taat, akan terus belajar Islam dengan baik, belajar dan terus belajar,” ujar seorang muallaf bernama Urfa.

Menyaksikan hal itu, MAI akan terus bersinergi dengan BMH dalam program lanjutan. “Setelah program rumah rampung, kita akan lanjutkan pada program ekonomi. Sebab kalau sudah ada rumah tentu selanjutnya adalah pekerjaan, kalau ada rumah tidak bisa bekerja, mau apa gitu, ya,” ucapnya dalam bahasa Sunda dengan logat yang kental.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *