Mendahulukan Ibu, Memudahkan Segala Urusan

Yang cukup menyentakku, cara Allah mengingatkan atas niatku mengirim ibuku uang yang terus tertunda
Memiliki banyak uang tentu harapan manusiawi setiap orang.

Tapi diberi amanah menjadi bendahara adalah hal yang sangat berat, sebab harus memegang uang yang bukan milik kita. Demikianlah yang harus aku hadapi, meskipun hanya sebatas bendahara dalam kegiatan internal sekolah. Sebenarnya aku tak ingin turut andil mengambil peran. Aku tahu pasti bahwa aku tak punya bakat mengelola keuangan dan yang lebih mengkhawatirkan, aku bukan sosok yang telaten.

Berangkat dari kesadaran itulah ketika harus menjadi bendahara dalam sebuah kegiatan selama seminggu, aku sangat berhati-hati dan berupaya mencatat dengan rinci setiap uang yang masuk dan keluar. Menyatukan berkas-berkas nota dan kwitansi yang diberikan setiap divisi, dengan harapan ketika membuat lembar pertanggungjawaban aku tidak kelimpungan dengan jumlah uang yang tidak sesuai dengan pencatatanku.

Beberapa hari kegiatan berjalan, semua masih baik-baik saja. Namun tepat dua hari sebelum penutupan, ketika jam menunjukkan pukul 23.30 aku mencoba mengecek kembali jumlah uang yang ada dan mencocokkan dengan pencatatanku…Innalillahi, uang tersebut kurang tujuh ratus ribu rupiah. Tubuhku sekonyong-konyong lemas. Malam itu aku sedang menginap di tempat kegiatan, maka hal pertama yang aku lakukan adalah mengecek loker tempatku menyimpan barang-barang. Hasilnya nihil. Kukeluarkan semua isi tasku, hasilnya sama nihilnya…
Seingatku, aku terakhir membawa uang satu juta rupiah untuk kuserahkan kepada salah satu divisi yang membutuhkan. Tapi, ternyata orang yang aku cari berhalangan hadir, dan entah selanjutnya aku lupa meletakkannya di mana.

Satu-satunya harapanku adalah ‘rumah’. Semoga uang itu tertinggal di kantong baju yang terakhir kali aku gunakan. Segera kutelepon suamiku meminta tolong agar ia memeriksa semua kantong baju, yang menurutku mungkin uang itu ada di sana. Ternyata nihil. Uang belum juga kutemukan. Ya Allah, engkau sebaik-baik penolong. Maka, aku memutuskan mengganti uang tersebut. Tapi, uang tunai yang sedang aku pegang adalah uang yang harusnya kukirimkan kepada orang tuaku. Apakah harus kutunda niat itu?

Malam itu aku lantas memilih mengambil air wudhu dan shalat. Tidak ada permohonan lain yang aku panjatkan selain memohon petunjuk atas keberadaan uang itu dan memohon petunjuk terbaik apakah menunda mengirim uang untuk ibuku. Tepat jam 07.30, aku mendapat pesan WA dari salah satu divisi yang menyampaikan bahwa ia telah menerima tambahan dana 500.000 rupiah dariku saat usai makan malam. Alhamdulillah. Menjelang dzuhur, salah seorang peserta mengatakan bahwa ia tidak jadi menyerahkan uang kontribusi sebesar 200.000 rupiah karena batal mengikuti kegiatan.

Allahu Akbar. Semua memang murni kelalaianku dalam pencatatan keuangan. Tetapi satu hal yang cukup menyentakku adalah cara Allah mengingatkan atas niatku untuk mengirim ibuku uang yang terus tertunda.
Setelah urusan selesai, aku segera mengirimkan uang itu kepada beliau. Bahkan sebelum aku mengkonfirmasi, beliau langsung menelepon dan mengucapkan terima kasih, pernyataan yang menunjukkan bahwa beliau memang sudah menantikan uang itu. Satu doa yang beliau panjatkan, “Semoga rezekimu terus bertambah dan urusanmu dimudahkan Allah.”

Sejak kejadian itu, aku merasakan betapa Allah memudahkan semua urusanku. Kini aku lebih mendahulukan untuk mengirimkan beliau uang sebelum memenuhi kebutuhanku. Terasa betapa Allah semakin menambah rezekiku. Memang tidak berlebihan tapi sudah sangat jauh dari cukup.

Ridha Allah terdapat dalam keridhaan seorang ibu. Jika merasa bahwa memenuhi kebutuhan ibu kelak mengurangi kebutuhanmu, ingatlah, berapa tahun ibu menahan banyak keinginannya hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sejak kecil hingga dewasa.

Allahummaghfirly waliwaalidaiyya.*/Ummu Fakhita, pengajar di Jawa Timur

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *