Mari Muliakan Saudara Muallaf Kita

Ustadz Nur Hadi memberikan bimbingan penggunaan sarung kepada Muallaf Togutil

Kiprah dai tangguh BMH di pedalaman Halmahera kian dikenal masyarakat. Belum lama ini media daring nasional juga memberitakan kiprah Nur Hadi, dai tangguh BMH yang bertugas di Wilayah Maluku Utara.

Dai yang menyelesaikan kuliah di STAIL Surabaya, Jawa Timur initelah malang melintang berdakwah di pedalaman Halmahera.

Ustadz Nur Hadi, demikian para santri Hidayatullah Kalumata memanggil, kini sedang sibuk membina para warga Suku Togutil yang Alhamdulillah belum lama ini masuk Islam.

Dalam hal ini tentu saja Ustaz Nurhadi mesti disupport. BMH sebagai Laznas yang langsung bermitra dengan pria asal Jawa Tengah itu sangat terbuka untuk membantu mensyiarkan Islam di pedalaman Halmahera.

Saat ini Ustadz Nur Hadi tidak lagi seperti dahulu yang sebagian besar waktunya habis digunakan untuk ekspedisi ke hutan-hutan. Kini beliau sibuk mengurus muallaf yang datang untuk diajari ibadah dan lain sebagainya.

“Sangat bersyukur dalam kesempatan ini, kami bisa membersamai Muallaf orang-orang suku terasing ini untuk belajar beribadah. Ada perasaan haru dan senang. Kadang peristiwa kelucuan atau keluguan dalam beribadah pun muncul didalamnya,” ucapnya.

“Mereka, kita kenalkan sholat dan gerakannya. Sebelumnya pun kita ajarkan cara mengambil air wudhu di sungai. Selanjutnya diajarkan memakai kain sarung untuk persiapan sholat,” imbuhnya.

“Walau dalam gerakan-gerakan sholat masih banyak yang belum sempurna dan banyak keluguan di dalamnya, kita maklumi karena ini baru proses pembinaan awal. Kadang mereka masih saling lihat ke kanan dan kiri ketika berdiri dan kesulitan ketika duduk setelah sujud,” urainya lebih lanjut.

Tidak sampai disitu, kelucuan kadang menjadi warna tersendiri dalam proses pembinaan belajar praktik ibadah sholat ini.

“Apalagi pertama kalinya mereka ruku, pinggang dan pinggul sebagian mereka berbunyi dan saling bersentuhan. Mereka bangkit dari ruku pun seperti orang yang berkaca pinggang, sambil berkata spontan, “aduh”. Kata diantara mereka yang sedang sholat,” terangnya.

Namun semua ini mesti dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia sekalgius mereka sebagai saudara seiman.

“Ikhtiar kami untuk memuliakan saudara kita muallaf suku Togutil pedalaman tak terhenti di sini, insya Allah program-program pembinaan dan pemberdayaan lainnya akan terus bergulir. Mohon doa dan dukungan terbaik dari seluruh sahabat.

“Ala kulli hal, akhirnya semoga Allah mengkokohkan Agama Islam ini pada mereka. Dan semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua. Amin,” ucapnya.

Melalui Program Dai Tangguh, mari bersinergi, terlibat dan berbagi serta peduli dengan Muallaf Suku Togutil.*/Syaif

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *