Madrasah Ceria BMH-AQL Pastikan Anak-anak Pengungsi Tetap Belajar

Fasilitas pendidikan yang juga terdampak musibah gempa bumi di Lombok menjadikan kegiatan belajar mengajar di sekolah lumpuh total.

Menyiasati hal tersebut, Laznas BMH bersama AQL Peduli mendirikan Madrasah Ceria sebagai wadah anak-anak tetap dapat belajar, sampai nantnya sekolah mereka berdiri kembali.

“Madrasah Ceria ini dibangun sebagai respon akan aktivitas belajar anak-anak pengungsi, dimana mereka harus tetap mendapatkan haknya menuntut ilmu. Madrasah ini akan terus beroperasi sampai sekolah mereka berdiri kembali. Jika lima bulan ke depan sekolah sudah berdiri, maka Madrasah Ceria hanya sampai di situ. Jika lebih lama waktu yang dibutuhkan, maka Madrasah Ceria akan lebih lama beroperasi,” terang salah satu Pendiri Madrasah Ceria Khairuman Basir Rambe dari AQL Peduli.

Sejak beroperasi pertama kali, Madrasah Ceria BMH-AQL ini telah membina 300 anak, mulai dari tingkat TK sampai SMP.

“Alhamdulillah, Madrasah Ceria sampai saat ini telah membina 300 anak-anak,” imbuh Khairuman.

Madrasah Ceria yang berada di Posko BMH di Dusun Cupek, Tanjung, Lombok Utara itu, beroperasi setiap hari Senin – Jumat, dari pukul 08:00 sampai pukul 11:00 Waktu Indonesia Tengah.

“Di Madrasah Ceria ini pelajaran yang diberikan kepada anak-anak terfokus pada pelajaran yang dinilai penting. Bagi anak-anak TK ada pelajaran mewarnai dan bermain. Kemudian untuk SD dan SMP ada pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Ditambah dengan pelajaran agama berupa adab dan doa-doa,” urai Khairuman.

Kepala BMH Perwakilan NTB Abdul Kholiq menjelaskan bahwa layanan pendidikan ini benar-benar menjadi konsen utama.

“Ini adalah bagian program utama sinergi BMH bersama AQL Peduli, karena kami sadar mereka adalah generasi bangsa yang harus terus menempa diri menjadi lebih baik dengan ilmu. Oleh karena itu, anak-anak yang agak jauh dari Madrasah Ceria ini langsung dijemput dan pulang kita antar,” jelasnya.

Program sinergi Madrasah Ceria ini memberikan kegembiraan tersendiri bagi anak-anak.

“Anak-anak sangat senang sekali, ada nuansa baru, karena beragam guru, ada dari pesantren dan pendidikan umum, dan bahkan guru-guru dari sekolah mereka yang hancur, sehingga mereka mendapat pengalaman baru, nuansa baru dan semangat baru,” pungkas Abdul Kholiq.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *