Lepas Ramadhan, Eratkan Persaudaraan

Alhamdulillah, Allah anugerahkan kita semua nikmat bisa menjalani Ramadhan 1438 H dengan baik, semoga Allah berikan umur manfaat lagi berkah, sehingga dapat meraih kemuliaan di Ramadhan yang akan datang.

Ramadhan memang memberikan dorongan luar biasa dalam beramal, mulai dari ibadah yang bersifat pribadi, hingga ibadah yang bersifat memahagiakan dan memberdayakan sesama. Kesan Ramadhan pun akan terus melekat di dalam hati.

Namun, kesan jangan hanya jadi kenangan, harus dijaga dan dipupuk dengan tetap menguatkan iman dengan persaudaraan. Terutama, pada momentum lebaran, silaturrahim menjadi bagian inti yang paling diutamakan.

Allah Ta’a’a berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Said Hawwa dalam bukunya Al-Islam menjelaskan bahwa “Pola kalimat pembatasan (hashr dengan kata innama) dalam ayat di atas menunjukkan bahwa di antara orang yang beriman dengan yang lainnya tidak ada ikatan persaudaraan.”

Di antara makna yang dapat kita ambil adalah, sesama insan beriman, menguatkan persaudaraan adalah kewajiban. Sebaliknya, tidak ada persaudaraan dengan siapapun yang tidak beriman. Dalam konteks ini, insan beriman dengan orang-orang kafir tidak boleh dan tidak mungkin hidup seperti saudara.

Hal ini karena di dalam Islam, manusia dikategorisasikan dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok orang-orang yang beriman. Kedua, kelompok orang-orang kafir. Ketiga, kelompok orang-orang munafik. Said Hawwa pun menegaskan, “Dengan dasar dan standar inilah kita berpikir, bersikap, dan bertindak.”

Tentu dalam bahasan kali ini kita akan membahas bagaimana perlunya kita mengeratkan persaudaraan, terutama setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan penuh kemuliaan.

Dalam panggung sejarah, kita bisa sama-sama menyaksikan, bagaimana Rasulullah mempersaudarakan orang-orang beriman dari kalangan Muhajirin dengan kalangan Anshor.

Ketika itu, Rasulullah mempersaudarakan Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah ibn Zuhair, Umar bin Khaththab dengan Utbah bin Malik, dan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ dan seterusnya.

Dr. Al-Buthy, seorang ulama paling berpengaruh di Timur Tengah dalam bukunya Fikih Sirah menjelaskan, “Persaudaraan itu bukan sebatas persaudaraan secara spiritual, Rasulullah bahkan mengikat tali persaudaraan antarsemua umat Islam kala itu hingga mencapai ranah material.”

Foto: dokumen BMH

Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya Ar-Rahiq Al-Makhtum Sirah Nabawiyah memberikan analisanya, “Sungguh, upaya mengikat persaudaraan ini adalah sbeuah langkah brilian, siasat bijak, dan solusi cerdas untuk mengatasi berbagai masalah yang sedang dihadapi kaum Muslimin.”

Dalam kata yang lain, mengeratkan persaudaraan adalah bagian dari upaya penting untuk umat Islam mampu mengatasi beragam persoalan hidup, baik secara pribadi lebih-lebih secara kolektif.

Lantas apa saja yang harus dilakukan dalam keseharian selepas Ramadhan oleh setiap kaum Muslimin dalam upaya mengeratkan persaudaraan.

Pertama, menguatkan aqidah Islam. Tidak mungkin akan ada persaudaraan yang kuat antar sesama Muslim tanpa aqidah yang kuat. Klasifikasi manusia yang disebutkan Said Hawwa membuktikan bahwa setiap umat Islam wajib menguatkan aqidah.

Dengan aqidah yang kuat, maka persaudaraan yang dibangun tidak lagi sebatas ikatan darah dan duniawi semata, tetapi ikatan ukhrowi dalam kontesk amar ma’ruf nahi munkar, sehingga pada akhirnya umat Islam dapat menjadi sebaik-baik umat (khairu ummah).

Kedua, membudayakan silaturrahim. Silaturrahim harus menjadi agenda penting setiap kaum Muslimin, baik dengan cara silaturrahim dengan bertatap muka langsung, dalam hal ini mudik lebaran untuk takzim kepada kedua orang tua dan keluarga, maupun dengan memanfaatkan teknologi seperti handphone. Prinsipnya, tetap saling saling sapa meski jarak memisahkan.

Ketiga, menumbuhkan dan menguatkan tradisi tabayyun. Dalam dinamika persaudaraan baik dalam konteks keluarga maupun persaudaraan sesama Muslim, budaya check and rechek, sehingga informasi yang beredar, terutama yang berbau negatif, bisa diklarifikasi secara bertanggung jawab, sehingga hubungan persaudaraan tidak retak apalagi terputus, hanya karena sebuah informasi yang tidak didalami seluk-beluk dan kebenarannya.

Keempat, sampaikan rasa cinta kita kepada sesama (saudara).

“Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kelima, minta didoakan dari jauh saat hendak atau telah berpisah.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad  Shallallahu alayhi wasallam untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku.” Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Demikianlah beberapa langkah yang dapat kita upayakan untuk mengeratkan persaudaraan, terutama selepas perpisahan dengan Ramadhan. Semoga aura Ramadhan kita tetap terjaga dan kian menguat dalam ragam amal dan ibadah, terutama dalam konteks penguatan ukhuwah Islamiyah alias persaudaraan. Wallahu a’lam.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *