Kondisi Sangat Menyayat Hati, Mari Terus Bergerak Peduli

Musibah gempa bumi dan tsunami yang melanda Donggala dan Palu benar-benar menyisakan duka dan keprihatinan yang begitu mendalam.

Hal itulah yang disaksikan dan dialami oleh Relawan BMH-SAR Hidayatullah setelah tiga hari berjibaku dengan jenazah-jenazah selama proses evakuasi.

“Tak ada tempat, disetiap jengkal tanah di kota ini yg tak menyulut duka. Saat ini. Berderet nama-nama tak berwujud. Berjejer wujud-wujud tak bernama. Tercecer. Tidak bernyawa,” ucap Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Barat Syamsuddin menggambarkan kondisi di lapangan (1/10).

Selama tiga hari berada di lokasi, relawan yang terbagi dalam dua regu yang terdiri dari 12 orang pada 1 Oktober 2018 telah enemukan 4 jenazah, 2 jenazah laki-laki dan 2 jenazah perempuan di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa.

Kemudian, relawan yang berkonsentrasi di Desa Langaliso Kecamatan Solo, Kabupaten Sigi, pada tanggal yang sama menemukan 1 jenzah laki-laki atas nama I Made Andreo Kristianiv (18 tahun) yang selesai dievakuasi pada pukul 17:00 WITA.

“Untuk relawan yang berkonsentrasi melakukan evakuasi pemakamandi RSUD Kota Palu, telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenazah dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” terang Komandan Lapangan Relawan BMH-SAR Hidayatullah di Palu, Ahmad Hamim.

Peralatan yang sangat terbatas menjadikan tim relawan melakukan evakuasi dengan alat seadanya. “Tragis memang, tapi inilah memang kondisi yang harus kami hadapi,” imbuh Hamim.

Penanganan Pengungsi

Selain proses evakuasi, BMH dan SAR Hidayatullah telah mendirikan tenda pengungsian di Jalan Untad Dusun Vatutela, Kelurahan Tondo, Palu.

“Di sini ada 200 KK pengungsi. Jelas saja tenda yang ada sangat tidak memadai. Jadi dibutuhkan terpal tambahan untuk membuat tenda yang bisa menaungi semua pengungsi,” jelas Syamsuddin.

Sementara itu, sekalipun dapur umum telah berdiri dan beroperasi selama tiga hari, kapasitas yang ada sejauh ini belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh pengungsi.

“Sampai saat ini baru 200 orang yang bisa terlayani per harinya,” imbuh Syamsuddin.

Kebutuhan mendesak para pengungsi adalah suplai air bersih baik untuk kebersihan badan dan minuman. Kemudian alas tidur, genset dan pelayanan medis di lokasi.

“Rinciannya meliputi, tenda untuk pengungsi, suport bahan makanan setidaknya 300 liter setiap hari plus lauk-pauk. Alas tidur atau tikar untuk 200 KK. Selimut sebanyak 500 pcs, genset plus BBM-nya, dan tim medis, perlengkapan kebutuhan dalam ibu-ibu, pampers dan susu bayi sekaligus peralatan bayi,” urai Syamsuddin.

Untuk dapur umum butuh tambahan panci dandang kapasitas 5 Kg, kompor 1 tungku 2 buah, wajan, dan tabung gas LPG 5 Kg dua buah.

Support Relawan

Relawan BMH-SAR Hidayatullah saat melakukan evakuasi jenazah yang ditemukan di bawah reruntuhan gedung di Citraland Palu (1/10)

Sementara itu, mengingat medan yang berat, relawan juga membutuhkan support segera agar dapat melakukan evakuasi secara maksimal.

Danlap di lokasi, Ahmad Hamim menyampaikan, “Untuk relawan butuh tambahan sepatu boots 20 pasang, skop sebanyak 10 buah, linggis 5, martil 5, sarung tangan karet 50, alkohol steril 2 dos, dan genset 5000 volt,” paparnya.

Kepada segenap kaum dermawan BMH secara langsung membuka diri untuk menerima donasi dan atau bersinergi untuk berbuat sebaik mungkin selama masa tanggap darurat di Palu dan Donggala agar proses recovery di lokasi dapat berjalan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya.

“Inilah tugas kita hari ini dan selama masa tanggap darurat. Mari berikan yang terbaik untuk membntu mereka yang berdedikasi di garis depan dalam evakuasi dan membantu memenuhi kebutuhan darurat para pengungsi,” pungkas Direktur Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Pusat, Dede Heri Bachtiar.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *