Irahai dika Islam, Irahai dika BMH

Begitulah Lepa dan Ely menyampaikan kebahagiaannya di hari Idul Adha. Keduanya adalah perwakilan masyarakat Suku Tobelo Dalam atau komunitas Togutil yang menerima daging qurban yang diberikan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) pada Hari Raya Idul Adha 1438 H pada hari Jum’at 01 September 2017.

Irahai Dika (bagus sekali). Kata ini terus diungkapkan Lepa dan Eli kepada Tim BMH yang berkunjung ke bivak (rumah tempat tinggal) Tobelo Dalam (Suku Togutil) di Lali Gumutu yang letaknya masuk ke dalam hutan sejauh 6 kilometer dari Desa Woda, Kecamatan Oba, Tidore kepulauan, Maluku Utara.

Sebelumnya, setelah sholat Idul Adha sampai tiba waktu sholat Jum’at, dilakukan pemotongan hewan Qurban berupa sapi sebanyak empat ekor di Desa Woda. Setelah sholat Jum’at, Lepa, Ely Papa, Hein, dan dua orang anak laki-laki Togutil lainnya yakni Ei dan Moses berdatangan ke Desa Woda. Mereka menuju rumah Mahmud Kandari (48 tahun).

“Saudara kita, Orang Togutil ini sudah berjanji akan berkunjung ke Desa Woda saat Idul Adha. Mereka adalah orang yang menepati janji. Sebab itu, meskipun hujan, mereka tetap berusaha datang,” ungkap tokoh masyarakat Desa Woda, Mahmud.

Orang Togutil di dataran Oba sudah masuk Islam sejak Dai Tangguh BMH berkunjung ke tempat mereka di Hutan Halmahera pada Oktober 2016 lalu. Mereka telah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Mahmud mengisahkan, Ei, anak lelaki Suku Togutil ini, sudah menjadi anak angkat Bapak Lepa sejak ibunya meninggal dunia karena diserang babi hutan. Karena itu, orang Togutil memelihara anjing sebagai sahabat penjaga mereka dari gangguan babi hutan.

“Babi hutan sangat besar di sini. Karena itu, mereka memelihara anjing untuk menjaga mereka,”katanya.

Hujan masih rintik. Pada pukul pukul 15.00 WIT, tim BMH bersama rombongan orang Togutil menuju ke lokasi bivak menggunakan dum truk. Perjalanan lebih dari 6 kilometer dengan jalan yang rusak. Di tepi sungai, beberapa isteri dan anak-anak orang Togutil menunggu kedatangan tim BMH.

Untuk sampai di sana, rombongan harus melewati sungai deras setinggi dada orang dewasa. Perjalanan berlanjut menuju bivak. Sesampai di sana, Eli mulai membuat perapian, Hein mengambil bambu dan membersihkan daging qurban di sungai. Daging yang dipotong-potong dimasukan ke dalam bambu lalu dimasak begitu saja di api yang telah dibuat oleh Eli.

Warga Suku Togutil usai menerima daging qurban dan bersiap menyeberang sungai

Eli, menggunakan Bahasa Tobelo mengatakan, bivak yang dikunjungi ini adalah tempat tinggal sementara mereka saat berburu rusa dan mencari getah damar untuk dijual ke warga Desa Woda. Selain itu, lokasi tersebut untuk mereka bertemu dengan warga desa.

“Tempat tinggal kami masih jauh lagi, masuk ke dalam hutan,” kata Eli.

Senja mulai turun. Tim BMH mulai berpamitan. Warga Togutil mulai berkemas. Memikul beberapa sembako dan daging kurban yang diberikan BMH ke dalam hutan untuk dibagikan kepada keluarga mereka yang masih berada di dalam hutan.*/Dea

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *