Ibra dan Kambing Qurban

 

Siang itu sepulang sekolah di emperan koridor sekolah seorang anak kecil tengah menjajakan jualannya.

Dengan seragam merah putih sepulang sekolah, anak bernama Ibra itu mulai menyusun sebagian barang-barang yang dibawanya. Semua maklum, Ibra cukup terampil berdagang.

Ia bukan dari keluarga tidak mampu. Bahkan kedua orang tuanya memiliki penghasilan tetap sebagai pengajar di sekolah negeri.

Hobinya berjualan menjadikan Ibra cukup cekatan dalam berdagang. Selain itu, karena bukan karena desakan ekonomi, buat anak seperti Ibra, untung rugi bukan masalah besar.

Namun, yang menarik dari sosok Ibra adalah motivasinya menempa diri dengan berdagang itu sendiri.

Ilustrasi/Foto: Aji S

Ia memiliki sebuah cita-cita kecil yang telah terpatri sejak TK. Ketika gurunya kala itu menjelaskan tentang hikmah Hari Raya Qurban.

“Kira kira siapa yang tau apa manfaat kita berqurban saat hari raya Idhul Adha?”, tanya sang guru pada murid sekelas.

Gurunya pun memberikan penjelasan. “Dari berqurban kita membantu fakir miskin yang tidak punya makanan,” ucapnya.

“Nah, apakah ada lagi? tanya sang guru menggugah murid-murid TK itu.

Suasana kelas tetap seperti biasanya, anak-anak tidak sepenuhnya memperhatikan.

Namun, di balik situasi itu, Ibra menjadi anak yang diam-diam memperhatikan dengan lekat uraian sang guru.

“Jadi anak-anak, manfaat berqurban dapat dirasakan oleh orang yang membutuhkan dengan memakan daging qurban dan untuk orang yang berkurban di akhirat kelak Allah datangkan baginya kendaraan sebagai balasan atas qurbannya di dunia,” jelas sang guru menuntaskan paparannya.

Kejadian sederhana yang lumrah terjadi setiap hari di sekolah itu, ternyata menjadi momentum tersendiri bagi Ibra.

Dalam dirinya muncul semangat untuk bisa berqurban. Dan, setelah menyampaikan apa yang dirasakannya itu kepada ayah ibunya, Ibra pun memilih menabung dengan uang sendiri melalui usaha jualannya.

Ketika ada barang dagangannya laku, labanya langsung digelontorkan ke dalam tabungan “qurban” nya.

Menyadari tekad Ibra, kedua orang tuanya tampak sangat bahagia dan terus memberikan motivasi.

Setiap kali memasukkan uang dalam tabungan ia merasa ada harapan begitu besar agar tabungan ini cepat penuh dan akan ada banyak orang yang turut bahagia di hari raya idul qurban nantinya.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun celengan yang tadinya bisa dihitung jari kini berkembang biak dan berada dalam tumpukan kardus. Selanjutnya siap dibongkar.

Genap di tahun kelima berada di sekolah dasar (SD) ia dapat mewujudkan cita citanya dengan seekor kambing.

Ia buktikan bahwa impiannya berqurban bukan teriakan semata yang tak berujung hasil.

Kisah ini memberikan suatu pelajaran bagi kita umat Islam bahwa bukan karena umur atau ukuran badan yang menentukan seseorang mampu menjalankan perintah Allah dan Sunnah Nabi, tapi karena ukuran keyakinan dan kesungguhan kita untuk mencapai itu.

Sekarang, bagaimana dengan kita? Akankan celengan Ibra lebih banyak dari celengan kita? Semoga Allah hadirkan niat dan kemampuan dalam diri kita untuk berqurban. Aamiin.*/Rifqiyati Hudayani_guru di Hidayatullah Batam

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *