Aji yang Begitu Mempesona

Jumat minggu lalu saya mendapat cerita dari salah seorang jamaah yang bikin merinding. Lebih merinding dibanding saat nonton film horor, lebih mendebarkan dibanding film thriller, lebih inspiratif dibanding isi buku biografi orang-orang hebat. Bahkan lebih mencengangkan dari berita para koruptor yang ditalangi negara uang curiannya

Sudah sekian lama beliau tak kunjung berhasil menemukan tenaga tukang untuk sebuah pekerjaan kecil di rumahnya. Sebenarnya beberapa rekomendasi datang dari tetangga lain. Namun sebanyak saran datang, sebanyak itu pula rencana pekerjaan dibatalkan. Ada saja kendalanya. Tapi dari sinilah semua itu berawal.

Selepas sholat jumat, kami duduk melingkar. Dengan mata berbinar, sambil sesekali meraba tengkuk dan tangannya, beliau yang selama ini menanti hadirnya tukang bangunan menuturkan akhir kisah perburuannya. Sebut saja abang tukang yang akhirnya ditemukan bernama Aji, umurnya belum genap 30 tahun, seorang mualaf, tinggal satu kecamatan dengan kami.

Tetangga kami ini akhirnya sadar bahwa ternyata ada hikmah di balik semua kesulitan mendapatkan tenaga tukang. Allah punya maksud menggagalkan dirinya bermualah dengan tukang biasa, karena kemudian dipertemukan dengan Aji, sang tukang luar biasa, bahkan mungkin bukan manusia biasa.

Setelah skema bisnis berujung pada kata sepakat, Aji berakad pada calon bosnya, bahwa upah yang akan diterima, seluruhnya diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid komplek. Ya, seluruhnya. Sekali lagi, seluruhnya !

“Bapak, doakan saja saya ya, supaya diberi kesehatan dan keistiqomahan dalam Islam” begitu dia mengakhiri ikrar akadnya.

Ya Rabb. Kami semua terkesima mendengar kisah ini. Sejumput bulu kuduk seperti baru tumbuh di tengkuk para jamaah. Semua manusia dalam lingkaran nampaknya kompak menahan nafas untuk membendung jatuhnya air dari kelopak mata.

ALlah mengirimkan malaikat kepada salah satu jamaah untuk menampar wajah kami semua. “Manusia berpendidikan rendah tapi pikirannya menjulang tinggi sampai ke Arsy” spontan salah satu komentar keluar dari kami.

Aji, pemuda berpenampilan biasa tapi punya hati mempesona. Jiwanya dikarunai rasa puas meski ekonominya pas-pasan.

Tak seperti orang terkenal yang kebaikan kecilnya saja dibicarakan orang banyak. Aji melakukan hal besar tapi enggan ditulis namanya dalam buku laporan donatur. Insya Allah amalnya menjadi perbincangan penduduk langit di atas sana, meski tak jadi berita di antara penduduk bumi.

Dia adalah gambaran wong cilik yang hanya mencicipi seuprit kekayaan negeri tapi tidak pernah menyusahkan orang banyak. Beda dengan para durjana yang pandai bicara, penghisap uang rakyat yang tampak gagah di balik jubah kemuliaan, Aji adalah mutiara di balik penampilan sederhananya.

Terima kasih Aji, ini pelajaran buat kami semua. Kamu hamba Allah yang benar-benar menghamba pada Allah.*/Novi Arian_Penulis Buku The Legacy_My Wall My Adventure

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *