Dinul Haq Bahar Berharap Hidup Manfaat dengan Berdakwah di Pelosok

Dinul Haq Bahar (33) dai tangguh BMH di Sorong Papua Barat

Menjadi apapun di bumi ini menyandang segala macam kisah menarik dan “menukik.”

Tidak terkecuali dalam melakukan aktifitas dakwah pasti ada kisah yang mengharukan dan menggembirakan.

“Akan tetapi itu yang menjadi penambah semangat dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami selaku pendakwah,” terang dai tangguh BMH, Dinul Haq Bahar.

Pria 33 tahun itu pun menuturkan, “Antusiasnya masyarakat terhadap akitifitas dan kegitan dakwah yang kami lakukan. Mereka merasa bahagia dan bersyukur ada orang yang mau datang membimbing dan mengajari mereka tentang Islam.”

Meski Islam diterima dengan baik, tidak otomatis semua hal bisa teratasi.

“Kami diterima, tapi apa yang menjadi tradisi mereka tidak mudah mereka tinggalkan. Itu memang, susahnya menghadapi tradisi yang sudah berjalan secara turun-menurun. Di sini dakwah memang harus luwes dan menemukan seninya sendiri,” tuturnya.

Untuk tiba di lokasi dakwah tersebut, Bahar mesti menempuh perjalanan sejauh 4 Kilometer.

“Setiap jalan dakwah, kami tempuh ke tempat aktifitas dakwah kurang lebih 4 kilometer dengan kondisi jalan bebatuan. Kalau cuaca hujan jalan akan tidak nyaman dilalui karena kondisi jalan lincin,” katanya.

Bahar bersama anak asuh di Kampung Monmok

Meski demikian dakwah terus berjalan. Kampung Keyen dan Kampung Monmok yang jaraknya dari kota Sorong Selatan kurang lebih 7 Kilometer merupakan desa yang menjadi binaan dakwah dai tangguh BMH.

“Inilah kami di sini, Muslim minoritas, dakwah sangat sepi, hampir-hampir tidak ada dakwah yang menyentuh mereka yang beragama Islam, sehingga mereka asing dengan ajaran agama mereka sendiri,” urai Bahar.

“Maka itulah kemudian yang mendorong kami untuk melakukan kegiatan dakwah di lokasi tersebut. Siapa tahu diri ini berguna bagi agama, meski di pelosok macam Papua ini,” pungkasnya.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *