Dakwah ke SAD, Medan Jauh dan Sulit, Bekal Sering Tak Cukup

Tim BMH sebelum berangkat ke lokasi SAD (12/2)

Berkat kepercayaan umat dan masyarakat, BMH senantiasa berupaya meningkatkan posisinya sebagai Laznas yang terdepan dalam bidang dakwah dan tarbiyah. Saat ini BMH menginisiasi Program Pembangunan Pesantren Muallaf Suku Anak Dalam.

Program ini berlangsung di Desa Kejasung Kecamatan Sungai Rengas Bukit Dua Belas, Kabupaten Batanghari.

Kondisi masyarakat yang mulai mengenal Islam (muallaf) harus terus dibina agar visi hidupnya terarah dengan jelas.

“Oleh karenanya BMH menugaskan 2 orang dai untuk membina masyarakat SAD mulai dari bagaimana pola hidup bersih dan sehat, mandi, bersuci dan beribadah hingga megajarkan Iqro agar ke-Islam-an mereka kian hari semakin sempurna,” terang Manajer Program dan Pendayagunaan BMH Megapolitan, Zainal Abidin (12/2).

Selama ini masyarakat SAD hidup nomaden, dimana mereka berpindah dari satu tempat ketempat lainnya, menyesuaikan dengan kondisi alam karena untuk bertahan hidup sehari-hari mereka mengandalkan stok persediaan makanan yang biasa mereka dapatkan dengan cara berburu di belantara hutan.

Maka ketika disuatu tempat yang mereka tinggali selama ini ketersediaan makanan di hutan menipis baik itu akibat pembalakan liar maupun alih fungsi hutan menjadi perkebunan yang berdampak pada stok makanan alami mereka, mereka akan teurs berpindah.

Untuk menuju lokasi diamana SAD tinggal, tim BMH harus melalui Jalan berbukit, curam, dan berlumpur, dengan waktu tempuh kurang lebih 5-6 jam.

“Saat tim berangkat, tidak lama ditemui jalan yang tidak dapat dilalui ketika turun hujan. Terkadang dengan menggunakan kendaraan doubel gardan atau motor trail pun, tak jarang tim banyak menemui kendala selama menempuh perjalana.

Kendalanya itu tadi, kami harus berjibaku dengan lumpur atau jalanan amblas. Sulitnya sinyal menjadi kendala utama untuk berkomunikasi termasuk akses listrik,” terang amil BMH yang bertugas ke lokasi, Arif Rahman.

“Di lokasi tempat SAD saat ini tinggal jauh dari pemukiman, lebar jalan hanya cukup untuk dilalui satu mobil. Maka ketika kami hendak masuk ke lokasi SAD, kami pun harus menyiapkan bekal logistik untuk minimum memenuhi kebutuhan konsumsi satu minggu kedepan.  Karena tentu tdk ada pasar maupun warung sembako di belantara hutan dan perkebunan sawit,” imbuh Arif.

Tetapi, jangan pernah diharap, bekal itu benar-benar cukup untuk satu pekan. Sebab, begitu dimasak, dan asap mulai disapu angin dan tercium anak-anak SAD, mereka akan segera datang menuju sumber asap itu.

 

Saat tim belanja sebelum menuju ke SAD

“Ketika kami beserta dai mengolah masakan yang kami bawa dari kota, tidak jarang ketika asap dan aroma masakan yamg kami olah tercium oleh masyarakat SAD, seketika anak-anak mereka berduyun-duyun mendatangi rumah panggung tempat dai dan tim tinggal.

Maka bekal logistik kami yang sejatinya bisa untuk konsumsi satu pekan, tidak jarang habis dalam 3 hari saja,” terang Kepala Perwakilan BMH Jambi Abdurrahman seraya tersenyum

“Masakan atau makanan kami menjadi menu istimewa yang mereka tunggu-tunggu. Di sinilah terkadang operasional dakwah dalam membina masyarakat SAD tidak bisa dikatakan kecil. Namun itulah realita dan tantangan yang kami dan Dai BMH harus hadapi. Bismillah,” pungkas Rahman penuh keyakinan.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *