Dakwah di Pelosok, Khutbah dengan 1 Jama’ah

Berdakwah bukan pekerjaan tanpa tantangan. Tantangan empirisnya jelas, jarak, waktu, biaya, tenaga dan pikiran. Tetapi, itu belum seberapa, ada tantangan niat, benar tidak mau berdakwah.

Itulah yang kira-kira dialami oleh dai tangguh BMH di Sumatera Utara, Ustadz Syukron.

“Alhamdulillah banyak pengalaman haru ketika berdakwah di Mandailing Natal. Pertama hadir berdakwah kala itu sekaligus untuk Khutbah Jumat. Subhanalloh, sampai detik-detik khutbah akan dimulai, belum juga ada jamaah yang datang, kecuali satu orang, itu pun muadzinnya,” ujarnya mengisahkan.

Tapi tidak dengan saat ini. Masyarakat perlahan mulai merasakan indahnya mengamalkan ajaran Islam. Tetapi, tidak berarti tantangan selesai. Dakwah memang selalu hidup dan karena itu, dakwah selalu dibutuhkan.

“Salah satu tantangan dakwah yang lain itu ya harus sabar. Baru beberapa bulan rumah yang kami tempati sudah dibongkar saat kami sedang ada kegiatan di luar. Hingga kami kehilangan kasur, kompor dan pakaian,” tuturnya sembari tersenyum.

Saat ini Ustadz Syukron Khairi Nasution, pria kelahiran 1994 itu rutin membina anak-anak dan warga Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

“Karena memang saya sengaja ditugaskan langsung di kampung itu dan tinggal di dekat kampung tersebut agar lebih mudah membina kampung tersebut,” ucapnya.

Ia berharap keberadaannya dapat membawa perubahan bagi masyarakat setempat.

“Hadirnya kami disini atas permintaan seorang Hamba Allah yang sangat risau melihat kondisi yang ada di kampung tersebut, Sehingga ia berharap kehadiran kami di tempat itu dapat membina masyarakat setempat untuk bisa berubah dari perilaku buruk menuju masyarakat yang berakhlak dan beradab. Jelas kami bukan ahli itu, tapi kami punya niat. Alhamdulillah BMH juga datang, semoga Allah mampukan,” tutupnya.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *