Dakwah DaiTangguh di Suku Togutil Kian Progressif

Sepanjang 2019, Laznas BMH terus menguatkan program pembinaan Muallaf Suku Togutil di Halmahera Maluku Utara. Suku Togutil adalah suku yang hidup di hutan dan belum tersentuh peradaban modern.

“Dalam menjalankan program ini, Laznas BMH bekerjasama dengan dai tangguh yakni Ustadz Nur Hadi. Alhamdulillah pembinaan terus berjalan selama 2019. Kini sudah mulai banyak yang mengerti bagaimana berwudhu, sholat, dan berakhlak, bahkan masak dan kebersihan, termasuk belajar berbahasa Indonesia,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku, Arif Ismail (13/12).

Suku Togutil dapat ditemui di pedalaman Pulau Halmahera, komunitas suku pengembara ini ditemui di beberapa kawasan.

“Di Utara masih ada, tepatnya di pedalaman Tobelo, di tengah juga seperti di Dodaga, di pedalaman Kao, di pedalaman Wasilei dan agak ke selatan juga terdapat beberapa komunitas mereka di pedalaman Maba dan Buli,” imbuh Arif.

Saat ini yang menjadi titik binaan BMH sebagian besar masih di bagian Selatan Halmahera seperti di Maba Utara; kawasan Wasileo, Patlean, Jarah-Jarah dan daerah lainnya.

Meski demikian, membina suku terasing seperti Togutil bukan tanpa tantangan. “Medan sudah jelas, kami harus nyeberang laut, menyusuri sungai, hingga menembus hutan. Tapi itu belum apa-apa. Kami sempat disalahpahami beberapa pihak. Alhamdulillah sekarang kita disupport oleh Kodim TNI Tidore serta Babinsa, sehingga pembinaan yang berlangsung sebulan sekali kembali dapat berlangsung dengan baik,” tutur dai tangguh BMH, Ustadz Nur Hadi.

Pada 2020 Ustadz Nur Hadi akan melanjutkan pembinaannya pada sisi yang lebih progressif, seperti pendidikan dan ekonomi Suku Togutil.

“Pada 2020, kami ingin menguatkan pembinaan untuk anak-anak Suku Togutil sadar pentingnya pendidikan. Selama ini berjalan program sekolah rimba, tapi ke depan kami ingin lebih baik. Untuk bapak-bapaknya kami mau latih berkebun dan bertani, sehingga mereka bisa bertahan hidup sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya,” jelasnya.

Pada 2020 BMH akan lebih menguatkan program dakwah dan pendidikan untuk Suku Togutil. “Bahkan kami ingin didik beberapa warga yang terbaik untuk belajar berdagang, sehingga nanti ada yang bisa buat kios untuk memenuhi kebutuhan warga suku sendiri yang kini mulai berjuang meninggalkan budaya lamanya, yaitu nomaden,” tutup Arif Ismail.*/Herim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *