Dai Tangguh Ini Siaga Ramadhan di Masjid dari Shubuh hingga Maghrib

Ramadhan adalah bulan yang harus diisi dengan kebaikan tanpa batas. Semangat ini juga tertanam kuat dalam diri dai tangguh BMH di Sulawesi Selatan, Ustadz Syukur.

Ia tidak saja menjalankan tugas sebagai imam sholat, tetapi juga siaga mengajar mengaji. Bahkan ikut serta membersihkan masjid.

“Assalamu ‘Alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh. Disampaikan kepada warga Desa Tabang, Bahwa, insha Allah selama Ramadhan, Ustadz Syukur akan tinggal di masjid dari ba’da shalat Shubuh hingga shalat Maghrib. Bagi warga yang ingin belajar mengaji, silahkan datang ke masjid di sepanjang waktu itu,” seru pengurus masjid menyampaikan pengumuman.

Masjid di Desa Tabang itu berada di ketinggian Pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu. Itulah lokasi dakwah Ustadz Muhammad Syukur Asirun.

“Beliau adalah dai tangguh BMH yang menjadi peserta dalam program Sebar Dai Ramadhan BMH – Yayasan Hadji Kalla tahun ini,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Kadir (22/4).

Menurut Ustadz Syukur, hanya ada 1 masjid di Desa yang dihuni oleh lebih dari 1.000 orang warga ini.

“Jarak rumah di sini pun berjauhan. Jalanannya pun belum diaspal. Sehingga kami bersama pengurus masjid berinisiatif untuk memberikan kemudahan bagi warga yang ingin belajar mengaji dengan cara seperti ini,” tuturnya.

“Apalagi, warga di sini mayoritas kesibukannya adalah berkebun, sehingga kita fleksibel saja menerima kapan mereka siap untuk belajar,” imbuhnya.

Ternyata pengumuman di masjid itu benar-benar didengarkan oleh warga. Terbukti banyak warga yang datang belajar mengaji.

“Alhamdulillah, setiap hari selalu ramai yang datang belajar. Pagi, siang, sore selalu ada warga yang ke masjid untuk belajar mengaji,” ungkap dai muda jebolan Sekolah Dai Hidayatullah Sutanbatara ini.

Tidak saja mengajarkan membaca Alquran, Ustadz Syukur juga memberikan pencerahan spiritual kepada warga desa melalui mimbar-mimbar taushiyah, utamanya setiap selesai sholat Tarawih.

“Setiap malam kami berusaha untuk menyampaikan ceramah usai tarawih. Kami ingin keberadaan kami di Desa Tabang ini memberikan manfaat lebih,” tekad dai kelahiran Konawe, Sultra ini.

Ia selalu bersyukur, karena semua ikhtiar itu mendapatkan dukungan dan respon yang baik dari warga dan pemerintah setempat. Termasuk menjadi dai tetap dalam safari dakwah dari dusun ke dusun bersama pemerintah desa setempat.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *