BMH Gelar Upgrading Daiyah Se-Indonesia

Suasana Upgrading Daiyah Se-Indonesia

Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menggelar Upgrading Daiyah Se-Indonesia.

Kegiatan yang mengusung  tema “Menuju Terwujudnya Keluarga Religius, Cerdas dan Cinta NKRI” ini berlangsung selama tiga hari (15-17 Februari 2018) di Caringin Bogor, Jawa Barat. 

Ketua Umum Laznas BMH Marwan Mujahidin mengatakan, sebagai Laznas yang memiliki program utama  dakwah dan pendidikan, BMH  pada tahun 2018 ini terus berupaya meningkatkan kemampuan skill para pegiat dakwah. Tidak saja para dai (pendakwah laki-laki)-nya,  tetapi juga daiyah (pendakwah perempuan)-nya.

“Inilah yang menjadi alasan mendasar, mengapa program Upgrading Daiyah Se-Indonesia diselenggarakan,  bekerja sama dengan Muslimat Hidayatullah guna mendorong terwujudnya dakwah yang lebih komprehensif dan berkesinambungan,” terang Marwan Mujahidin dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (15/2).

Ia menambahkan,  “Harapan kami sederhana saja, semoga para daiyah bisa berperan melalui keluarga menjaga Indonesia yang cerdas, religius dan mencintai negeri tercinta ini dengan sebaik-baiknya.”

Marwan mengemukakan, jika para dai lebih dominan dakwah kepada masyarakat, maka daiyah BMH diharapkan dakwah dengan fokus utama pada pendidikan anak dan keluarga.

“Sebagai pegiat untuk kalangan wanita, tentu melekat di dalam diri daiyah itu status sebagai istri dan ibu rumah tangga. Maka, daiyah lebih utama berdakwah dalam lingkup keluarga dan pendidikan anak, sehingga ke depan lahir anak-anak yang cerdas, religius dan cinta NKRI,” imbuh Marwan.

Jumiatun (38),  daiyah yang telah puluhan tahun berdakwah di wilayah Sumatera Utara, tepatnya kini di Deli Serdang,  mengaku bahwa tantangan terberat dakwah saat ini adalah menyadarkan kaum ibu akan pentingnya pendidikan agama kepada anak.

“Tantangannya memang sudah mulai sedikit ibu-ibu yang menyadari pentingnya pendidikan agama, akhlak, dan kebangsaan kepada anak-anak. Akibatnya, anak zaman sekarang cenderung tidak begitu akrab dengan agama dan kebangsaan,” ucapnya.

Sementara itu, Naziah, daiyah yang kini tugas dakwah di Bitung,  Sulawesi Utara,  menerangkan bahwa demi menjaga kerukunan masyarakat, terutama di mana Islam minoritas, pendidikan toleransi kepada anak sangatlah penting.

“Alhamdulillah dakwah kami diterima masyarakat di sana. Meski demikian kami mengajarkan anak-anak muda yang memiliki semangat dakwah untuk mengedepankan sikap toleransi. Jangan sampai karena atas nama dakwah,  kerukunan yang mahal di tempat kami menjadi terkoyak. Lagi pula, dakwah itu kan menyadarkan dan mencerahkan, jadi jelas dakwah harus dengan cara-cara yang bijaksana,” katanya.

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *