Bersama Komunitas PENA Gelar Bedah Buku Santri Menulis

Serangkai dengan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2018 lalu, komunitas pegiat literasi dan jurnalistik santri yang bernama Penulis Muda Indonesia (PENA) juga ikut meramaikan dengan berbagai kegiatan.

Di antaranya, Munas PENA, Silatnas PENA, dan Bedah Buku “Santri Menulis” dan “Nawaitu Menulis”.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltim mendukung acara tersebut yang rangkaian acaranya berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Untuk Silatnas dan Munas PENA berlangsung pada 20-25 November 2018. Sedangkan Bedah Buku “Santri Menulis” dan “Nawaitu Menulis” ala Talk Show ini digelar pada Sabtu (08/12/2018) malam di Aula STIS Hidayatullah.

Sedikitnya 60 orang mahasiswa dan santri mengikuti kegiatan yang dikemas santai tapi serius ini.

Adapun sebagai pembedah buku tersebut adalah Ustadz Abdul Ghofar Hadi, seorang penulis di berbagai media literasi,  kontributor “Santri Menulis”, sekaligus Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Gunung Tembak.

Pemateri kedua yaitu Ustadz Masykur, penulis buku “Nawaitu Menulis” yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Pemateri berikutnya adalah Abdus Syakur, editor buku “Santri Menulis” yang juga Redpel Hidayatullah.com.

Hadir memberi sambutan Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Abu A’la Al-Maududi.

Dalam kesempatan itu, para pemateri mengajak para santri untuk terus menggiatkan budaya literasi.

Para santri didorong untuk rajin menulis dan membaca. Bagi yang selama ini sudah rutin melakukan itu, didorong agar meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.

“Santri itu bisa jadi penulis,” pesan Ustadz Ghofar.

Para santri pun  dianjurkan untuk tidak melupakan aktivitas jurnalistik di sekolah atau kampus, termasuk dengan  menghidupkan  majalah dinding (mading).

Sebab ketiga pemateri tersebut salah satu bekal jurnalistik mereka berawal dengan mengelola mading.

“Mading ini menjadi batu loncatan,” ungkap Masykur yang semasa di Madrasah Aliyah dulu aktif menghidupkan mading madrasah di Gunung Tembak.

Para santri pun diminta percaya diri dengan statusnya sebagai santri. “Jangan merasa minder,” pesan Abdus Syakur yang juga mengaku masih sebagai santri.

Dalam Silatnas dan Munas tersebut, BMH mendukung digelarnya rangkaian silaturahim para penulis muda. Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Perwakilan Kalimantan Timur, Ahmad Rifai menegaskan bahwa komitmen BMH yang paling inti adalah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kami sampaikan apresiasi tinggi kepada komunitas PENA yang knsen mendidik generasi muda melalui literasi, ini suatu gerakan penting untuk mewujudkan gerakan mencerdaskan bangsa. BMH sangat support terhadap kegiatan seperti ini,” tuturnya.

PENA juga melakukan pergantian dan penunjukan kepengurusan pusat.Ketua PENA periode pertama, 2015-2018, Ustadz Masykur, digantikan oleh Imam Nawawi sebagai Ketua PENA periode berikutnya.

Sejumlah anggota senior PENA pun diangkat menjadi pengurus pusat sekaligus Koordinator di berbagai daerah. Antara lain Jabodebek, Jatim, Sulsel, Kaltim, dan NTT, menyusul daerah-daerah lainnya pada kesempatan selanjutnya.

Prosesi Munas pertama PENA digelar di kampus Hidayatullah Gunung Tembak pada 25 November 2018, dihadiri anggota PENA dari berbagai daerah di Indonesia.

PENA merupakan komunitas para penulis muda dari kalangan santri pada khususnya. Kehadiran PENA pada 10 September 2015 diawali dari diskusi-diskusi di grup WA. Diawali dari Jakarta dan secara seremonial dideklarasikan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.* SKR

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *