Akhta, Dai Tangguh yang Harus Rela Terjang Angin dan Gelombang

Istri Akhta dan warga yang menyeberang dari Batam menuju Pulau Gara

Apa yang Anda rasakan ketika berkendara selama 30 menit, rileks mungkin atau tanpa beban apapun.

Tetapi Bagaimana jika 30 menit itu ditempuh melalui jalur laut dengan sampan alias ketinting yang sangat sederhana membelah gelombang dan angin kencang?

Demikianlah aktivitas Ustadz Akhta, dai tangguh yang bertugas dakwah ke Pulau Lingke, Pulau Bertam, dan Pulau Gara di Provinsi Kepulauan Riau.

Bukan tanpa alasan ketiga pulau itu menjadi sasaran dakwah, mengingat pulau-pulau itu berada di pinggiran Kota Batam dan sangat jarang mendapatkan perhatian, terutama pada sisi ruhani atau pemahaman terhadap ajaran Islam.

Berita yang beredar, mulai ada penduduk yang berpindah keyakinan karena faktor ekonomi, tipisnya pemahaman terhadap aqidah Islam sehingga menjadikan tempat dakwah ini begitu penting untuk dijadikan sebagai pusat pembinaan.

Keberadaan mereka di pulau menjadikan tempat itu masih belum terhubung alias masih terisolir dari kota Batam, akhirnya akses pendidikan sangat-sangat terbatas, ini bisa dilihat dari tidak sedikit warga di sana yang belum bisa sama sekali membaca dan menulis.

“Di sini tantangannya terasa begitu berat. Jadi bagaimana kita mau mengajarkan mengaji, sementara mereka baca tulis aja belum bisa. Tapi Alhamdulillah kami beserta istri tetap punya komitmen untuk terjun langsung ke tiga Pulau ini karena boleh jadi inilah tempat kami bisa menjadikan umur dan hidup kami bermanfaat bagi agama,” ungkap Akhta didampingi istri.

Namun ada satu hal yang sangat menghibur Ustadz Akhta dan istri, yakni setiap dai tangguh BMH tiba untuk dakwah, warga datang berduyun-duyun untuk belajar mengaji dengan penuh antusias.

“Bahkan mereka hadir dengan membawa makanan dan minuman untuk kami, alasannya biar saya dan istri betah dan tidak kapok datang mengajar mereka,” tutur Akhta sembari tersenyum.

Lebih dari itu warga tidak sungkan-sungkan menghubungi dai tangguh BMH manakala jadwal yang telah tersedia tidak dapat diisi karena berbagai macam halangan, seperti ketiadaan biaya, faktor cuaca, hingga ketinting yang lama ditunggu.

Dai Tangguh BMH Ustadz Akhta (KIri) bersama rekan dakwahnya

“Kalau saya dan istri tidak datang sesuai jadwal, mereka nelpon bahkan sampai nangis-nangis supaya kita segera datang ke sana,” imbuhnya.

Demikianlah sekelumit aktivitas dakwah dengan sedikit tantangan yang harus ditaklukan oleh dai tangguh BMH demi tugas mulia mendakwahkan ajaran Islam.

Anda bisa mendukung dai tangguh BMH melalui zakat dan infak yang Anda salurkan untuk kemajuan dakwah umat Islam, terkhusus di daerah kepulauan, perbatasan, dan pedalaman.*/Herim

Bagikan artikel

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *