Merawat Hidayah Dengan Aktif Membina Muallaf

Sore itu, Ibu-Ibu Muallaf sudah berkumpul di ruang tengah rumah Bapak Setio. Rumah ini merupakan salah satu 'basecamp' pembinaan Muallaf yang ada di kota Jembrana.

"Sejak dua tahun lalu kami rutin mengadakan pembinaan seminggu dua hingga tiga pengajian dirumah ini", ungkap Haji Setio selaku tuan rumah.

Berawal dari kegelisahan tokoh ini yang mengetahui banyaknya problem yang dihadapi para Muallaf, dengan niatan membantu, Allah akhirnya mempertemukan dengan dai tangguh Ustadz Jalaluddin Arrumi.

Awalnya, diakui Haji Setio, demikian beliau biasa disapa, pengajian dirumahnya ini digelar di musholla rumahnya dan diikuti oleh beberapa anggota keluarganya. Sering keistiqomahan Ustadz Jalal dalam membina ibu-ibu Muallaf, sekarang sudah semakin ramai, sehingga membutuhkan tempat yang agak luas.

“Walau sudah dua tahun membina, materi hari ini pun masih membahas tentang Iqro”, kata Ustadz Jalal ketika selesai mengisi ibu-ibu dan bergabung degan bapak-bapak di beranda rumah.

Sembari melanjutkan, Ustadz Jalal mengibaratkan bahwa binaannya ini masih seperti 'bayi' yang butuh 'perhatian khusus' untuk terus dikuatkan aqidahnya.

"Butuh ketekunan dan kesabaran dalam membimbing mereka, dan harus istiqomah. Istiqomah ini akan mudah jika kita melakukan sesuatu yang baik karena dilandasi 'bismirabbik'.

Ada banyak kesan yang saya rasakan betapa kehadiran kita walau hanya seminggu dua-tiga kali tetap bagi para ibu-ibu Muallaf ini ada 'Samudra' ilmu yang bisa memberikan jawaban atas realitas yang mereka hadapi.

Mungkin bagi kita yang sejak lahir dan diasuh dengan nilai-nilai dalam keluarga Islami tidak begitu 'bergejolak', namun tidak bagi mereka yang istilah manusia bisa dikatakan sedikit 'terlambat' tersentuh hidayah.  

Dengan pembinaan rutin seperti ini, diibaratkan 'ikan' yang dalam beberapa waktu tidak menyentuh air dalam  kehidupannya, ketika bertemu air, maka ikan-ikan ini akan terus berenang dengan riang kesana-kemari. Begitu pula dengan mereka yang selama ini mengandalkan 'akal & indera' dengan kemampuan yang sangat-sangat terbatas, akan merasakan begitu sempurnanya ajaran Islam ini.

Ibu Ni Luh Parwati, seorang Muallaf yang setia mengikuti kajian yang diasuh Ustadz Jalal ini merasa bersyukur dan terus termotivasi untuk mendalami agama Islam.

"Ternyata agama ini begitu sempurna namun ummatnya yang belum begitu mampu membumikannya dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya penuh semangat.*/Yauma